Skip to main content
x

Aturan Akademik

 

BUKU PANDUAN AKADEMIK PPDS-I NEUROLOGI

                               FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA

BANDA ACEH

2016

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

Dalam rangka mengantisipasi perubahan global yang berlangsung cepat ditandai dengan adanya kebijakan pasar bebas dengan dampak masuknya dokter dari berbagai negara ke Indonesia, serta dengan berkembangnya Ilmu dan Teknologi Kedokteran terutama Neurologi  yang begitu pesat dimana ilmu neurosain memegang peranan penting, maka program studi neurologi diseluruh pusat pendidikan harus berusaha mengembangkan neurologi secara komprehensif termasuk memperhitungkan aspek-aspek medico-sain dan medico-legal.

Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis Neurologi (PSPDSN) merupakan jenjang pendidikan lanjut dari program pendidikan dokter spesialis neurologi, yaitu program pendidikan untuk mencapai kompetensi sebagaimana tercantum di dalam buku ”Standar Kompetensi Dokter Spesialis Saraf” dari Kolegium Neurologi Indonesia. Ditinjau dari aspek kuantitatif maka kebutuhan dokter spesialis di Indonesia, yang berpenduduk 220 juta orang, masih sangat tinggi. Pada tahun 2006 jumlah dokter spesialis saraf di Indonesia lebih-kurang 600 orang, dengan demikian rasio terhadap jumlah penduduk adalah 1 : 350.000. Di samping itu, kecukupan secara kuantitatif harus diiringi dengan peningkatan mutu dokter spesialis saraf melalui program pendidikan berbasis kompetensi yang dilaksanakan secara inovatif.  Adalah suatu kenyataan bahwa kondisi dan situasi Institusi Pendidikan Dokter Spesialis Neurologi di Indonesia cukup bervariasi yang dapat berdampak pada perbedaan kualitas pendidikan maupun kualitas para lulusannya sebagaimana tercermin pada cognitive, skills, attitude & behavioral competencies mereka. 

Oleh karena itu Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala Malang berusaha meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui Program Pendidikan Dokter Spesialis Neurologi dengan kurikulum yang menekankan pada aspek neurosain.

Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis Neurologi dengan bobot Neuro-sain adalah program pendidikan yang mengacu pada Kurikulum Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis Neurologidari Kolegium Neurologi Indonesia (KNI 2003 Revisi) dengan titik berat kepada pendalaman materi ilmu penyakit dasar saraf terutama biologi molekuler dan penelitian dasar neurologi. Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis Neurologi dengan pembobotan neurosain bertujuan untuk mendidik dokter umum menjadi Spesialis Neurologi yang mampu menerapkan metode ilmiah dengan dasar neurosaindalam memecahkan masalah kesehatan dan peningkatan kualitas kesehatan di bidang ilmu penyakit saraf yang dilandasi dengan penerapan Etika Kedokteran, Perikemanusiaan dan Profesionalisme.

            Untuk mengetahui tercapai atau tidak tujuan pendidikan maka perlu disusun kompetensi akhir pendidikan yang akan dipergunakan sebagai dasar untuk menyusun kurikulum termasuk didalamnya proses pendididikan beserta cara evaluasinya serta menyusun sumberdaya yang dibutuhkan. Kompetensi merupakan tolok ukur kemampuan yang harus dicapai dari suatu hasil program pendidikan yang akan memberikan kewenangan dalam menjalankan atau menerapkan keahlian sesuai bidangnya. Komponen kompetensi meliputi kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan, ketrampilan, sikap dan perilaku yang telah ditetapkan.

Dalam upaya mencapai standard kompetensi yang ditetapkan KNI, maka perlu disusun kurikulum sebagai rencana pembelajaran dan buku panduan pendidikan sebagai acuan pelaksanaan pendidikan yang utuh dan penting untuk jaminan tercapainya tujuan pendidikan yang dapat diukur secara akurat.

 

 

BAB II

AZAS DAN TUJUAN

2.1 AZAS

Program Studi Dokter Spesialis Neurologi Fakultas Kedokteran Unsyiah berazaskan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 serta menjunjung tinggi nilai-nilai norma/etika, dan menjaga wawasan kebangsaan.

 

2.2. TUJUAN

 

2.2.1. TUJUAN UMUM  PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS SARAF

Berdasarkan Kurikulum Pendidikan (Kolegium Neurologi Indonesia 2001) revisi 2003, Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis Neurologidengan kurikulum master neuroscience di Fakultas Kedokteran Unsyiah merupakan pendidikan melalui proses  belajar dengan suatu kurikulum yang telah diatur dan akan menghasilkan dokter spesialis yang :

1.      Mempunyai rasa tanggung jawab dalam pengamalan ilmu kesehatan sesuai dengan kebijakan pemerintah berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

2.      Mempunyai pengetahuan yang luas dalam bidangnya serta mempunyai keterampilan dan sikap yang baik sehingga sanggup memahami,  memecahkan masalah kesehatan secara ilmiah dan dapat mengamalkan ilmu kesehatan kepada masyarakat yang sesuai dengan bidangnya secara optimal.

3.      Mampu menemukan, merencanakan, melaksanakan pendidikan, penelitian secara mandiri dan mengembangkan ilmu ke tingkat akademik yang lebih tinggi.

4.      Mampu mengembangkan sikap pribadi sesuai dengan etika ilmu dan etika profesi.

 

2.2.2. TUJUAN KHUSUS  PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS SARAF

Pendidikan dokter spesialis ini, akan menghasilkan dokter spesialis saraf dengan pembobotan ilmiah neuro-science, yang mempunyai peran, fungsi dan kompetensi yaitu:

1.      Mempunyai pengetahuan dan pengertian menyeluruh tentang penyakit saraf juga menampilkan konsep neuroscience dasar, neurologi klinik di dalam pelayanan neurologi, khususnya tentang pelayanan medik neurologi dan keadaan/penyakit lain yang terkait. Mampu menguraikan makna atau arti, tanda dan gejala tertentu serta hasil-hasil pemeriksaan klinik yang lain, mempertunjukkan/mendemonstrasikan pengertiannya tentang berbagai cara pengobatan yang tepat untuk sekelompok kelainan/masalah tertentu, serta bagaimana mekanismenya agar intervensi itu dapat berhasil.

2.      Pemecahan masalah dan pengambilan keputusan klinik neurologi.

Mengenal adanya masalah-masalah klinik, mengumpulkan keterangan (informasi) tentang masalah tersebut dari berbagai sumber, menilai data klinik atas dasar penguasaan peluang terbesar terjadinya masalah tersebut, menegakkan diagnosis atas dasar data yang dikumpulkan, menggunakan kesimpulan tersebut untuk merumuskan dan merencanakan pelaksanaan secara tepat dan mengevaluasi. Setelah itu meramalkan perjalanan penyakit saraf dan penyakit/keadaan lain yang terkait

3.      Ketrampilan prosedur dan tindakan klinik

Melaksanakan berbagai prosedur terutama yang memerlukan ketrampilan dan psikomotor. Termasuk melakukan berbagai aspek pemeriksaan fisik,  prosedur diagnosis dan melakukan prosedur terapeutik dalam bidang Neurologi dan keadaan/penyakit lain yang terkait

4.      Ketrampilan Interpersonal

Mendengarkan dengan penuh perhatian dan memahami perilaku penderita, baik yang terucap, maupun yang tersirat, "membesarkan hati" penderita, bereaksi wajar terhadap perasaaan penderita dan menggunakan ketrampilan interpersonal untuk bekerja sama dengan sesama insan profesi kesehatan lainnya.

5.      Kebiasaan kerja dan sikap profesional.

Dalam melakukan tanggung jawab profesi senantiasa menampilkan objektifitas, ketelitian, kegigihan, efisiensi, keandalan, kewaspadaan, dan penuh pengabdian kepada kebutuhan penderita serta keluarganya. Senantiasa siap untuk melakukan tanggung jawab profesionalnya sedemikian rupa sehingga diperoleh hasil perawatan kedokteran/kesehatan yang sebesar-besarnya. Di samping itu juga senantiasa melakukan tanggung jawab profesionalnya secara sopan dan penuh kasih sayang berdasarkan Kode Etik Kedokteran.

6.      Mampu meningkatkan kuantitas dan kualitas penelitian dasar, klinik dan komunitas. Mempunyai motivasi mengembangkan pengalaman belajarnya sehingga dapat mencapai tingkat akademik lebih tinggi.

 

 

 

BAB III

VISI – MISI

3.1. Visi Program Studi

Menjadikan Program Studi Neurologi yang unggul, berbasis keterampilan handal, pengetahuan terkini serta etika yang baik hingga menjadikan Program Studi Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala menjadi salah satu institusi pendidikan yang terbaik di Indonesia pada tahun 2025.

 

3.2. Misi Program Studi

Dalam rangka memenuhi tuntutan visi diatas, Program Studi Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala memiliki misi sebagai berikut :

1.      Menyelenggarakan Tridharma Perguruan Tinggi untuk mendukung pembangunan di bidang kesehatan saraf baik pada tingkat lokal maupun nasional.

2.      Menyelenggarakan dan mengembangkan Program Studi Neurologi FK Unsyiah yang berkualitas dan beretika berdasarkan standar profesi yang tinggi sesuai perkembangan ilmu kedokteran terkini.

3.      Menyelenggarakan dan mengembangkan penelitian kedokteran serta penerapan ilmu pengetahuan dan tehnologi yang bermutu tinggi dan menghasilkan HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual).

4.      Menyelenggarakan, mengembangkan, organisasi dan manajemen terpadu melalui penerapan prinsip transparansi, partisipatif, efisien, dan produktif.

5.      Membina jaringan kemitraan dengan berbagai rumah sakit umum di seluruh Aceh.

6.      Melakukan kerjasama dengan lingkup nasional, peningkatan kemampuan ilmiah, tekhnologi dan keterampilan klinik dan staf pendidik dalam lingkup program studi.     .

 

3.3.  Nilai

      Seluruh civitas academica terlibat dalam penyelenggaraan Program Studi 

Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis Neurologidengan memegang teguh nilai-nilai“ 

RESIK “ 

                          R esponsif

                          E fektif dan E fisien

                          S uportif

                          I  novatif

                          K omitmen 

 

3.4.  Grand Strategi :

1.      Meningkatkan Mutu Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian/ Pelayanan

2.      Meningkatkan Mutu Manajemen

3.      Meningkatkan Mutu Sumber Daya Manusia

4.      Mengembangkan Kerja Sama di bidang Pendidikan dan Penelitian

 

 

3.4.1  PROGRAM  KERJA  :

 

3.4.1.1. Meningkatkan Mutu Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian  :

1.      Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis Neurologi Fakultas Kedokteran Unsyiah terakreditasi secara Nasional.

2.      Kurikulum Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis Neurologi Fakultas Kedokteran Unsyiah bertaraf Nasional dengan unggulan bidang biomedik (Neuroscience), Neuro Intensive Care.

3.      Hasil penelitian Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis Neurologi Fakultas Kedokteran Unsyiah tepat guna dan dapat diaplikasikan untuk masyarakat.

4.      Fakultas Kedokteran Unsyiah mendukung kebijakan DepKes percepatan pemenuhan Sp.S di daerah-daerah dengan pendidikan KBK/Kurikulum Berbasis Kompetensi (Sistem Modul)

 

 

3.4.1.2. Meningkatkan Mutu Manajemen

1.      Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis Neurologi Fakultas Kedokteran Unsyiah mekanisme kerja dan teknologi informasi & komunikasi yang terintegrasi secara online dengan Fakultas Kedokteran Unsyiah dan Institusi lain terkait  

2.      Semua lulusan Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis Neurologi  Fakultas Kedokteran Unsyiah memenuhi standar kompetensi yang bertaraf Nasional, dengan unggulan bidang biomedik (Neuroscience) Neuro -Intensive Care.

3.      Sumber Dana penyelenggaraan Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis Neurologi Fakultas Kedokteran Unsyiah secara mandiri - bersama DepDikNas dan DepKes

 

3.4.1.3. Meningkatkan Mutu sumber Daya Manusia

1.      Seluruh dosen Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis Neurologi Fakultas Kedokteran Unsyiah memenuhi kualifikasi  

2.      kompetensi dan sertifikasi sebagai dosen (PEKERTI, AA).

3.      Seluruh Staf dan unit kerja memiliki kualitas dan kuantitas SDM yang memadai.

4.      Pola Pengembangan Karir semua Staf Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis Neurologi (PSPDSS) FAKULTAS KEDOKTERAN UNSYIAH sesuai dengan

seksinya yang bersertifikat (Konsultan/Kursus2)

5.      Seluruh dosen Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis Neurologi(PSPDSS) Fakultas Kedokteran Unsyiah menguasai Tehnologi Informasi 

 

 

 

BAB IV

KETENTUAN AKADEMIK

 

3.1 Pengertian Dasar Sistem Kredit Semester

Sesuai dengan Undang-undang No 20 Tahun 2013 tentang Pendidikan Kedokteran dan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia no 49 tahun 2014, maka penyelenggaraan pendidikan dokter spesialis neurologi diselenggarakan oleh universitas dengan akreditasi paling sedikit B di fakultas kedokteran terakreditasi A dan rumah sakit pendidikan utama beserta berbagai rumah sakit satelit dan wahana pendidikan lainnya dengan masa studi 8 semester dan beban studi 103 SKS. 

Sesuai dengan peraturan tersebut di atas maka dasar penghitungan SKS ditetapkan sebagai berikut :

1.      Satu semester : setara dengan 16 minggu kerja

2.      Satu SKS kegiatan tatap muka untuk peserta didik adalah :

a.       50 menit/minggu :  perkuliahan/ responsi /tutorial

b.      50 menit/minggu : kegiatan tugas terstruktur dan tidak terjadwal

c.       60 menit/minggu : kegiatan akademik peserta didik secara mandiri

3.      Satu SKS kegiatan praktikum di laboratorium : 3 jam/minggu di laboratorium

4.      Satu SKS kerja lapangan (bedsite teaching dan operasi) : 4  jam tugas di lapangan atau sejenisnya

Satu SKS penyusunan tesis : 4 jam /hari selama 25 hari kerja.

Kegiatan akademik modul ialah paket kegiatan akademik yang membahas dan mendalami keilmuan cabang ilmu atau sub disiplin tertentu dan diselenggarakan oleh cabang ilmu atau disiplin bersangkutan.

 

3.2 Nilai Kredit Semester dan Beban Studi 

A. TAHAP NEUROLOGI DASAR (10 SKS)            

Ø Materi Dasar Umum (MDU)

Materi Dasar Umum adalah materi pendidikan yang memberikan dasar pengetahuan bagi setiap ilmuwan agar menjadi seorang penggagas dan peneliti. Materi ini merupakan materi dasar yang tidak menyangkut bidang ilmu kedokteran secara langsung.

 

Tabel 1. Materi Dasar Umum (MDU)

KODE

MATERI

SK

S

MDU 01

llmu Pengetahuan dan Etika Profesi

1

MDU 02

Metodologi Penelitian

2

MDU 03

Biostatistik & Komputer Statistik

1

JUMLAH

 

4

 

Ø Materi Dasar Khusus (MDK)

Materi Dasar Khusus adalah materi pendidikan yang memberikan dasar pengetahuan keahlian dalam bidang kedokteran agar mampu memecahkan masalah, menjadi pengembangan ilmu dan pada gilirannya dapat menerapkan keprofesiannya dengan kualitas yangtinggi.

Tabel 2. Materi Dasar Khusus (MDK)

KODE

MATERI

 

 

SKS

MDK 01

Epidemiologi       Klinik

Medicine

&

Evidence-based

2

MDK 02

Farmakologi Klinik

 

 

2

MDK 03

Biologi Molekuler

 

 

2

JUMLAH

 

 

 

6

 

Materi Dasar Umum dan Materi Dasar Khusus merupakan program bersama dengan program studi klinik bidang-bidang lain sebagai dasar pencapaian kompetensi spesialis neurologi.

B. TAHAP KEAHLIAN NEUROLOGI (17 SKS)

Ø Materi Keahlian Umum (MKU)

Materi Keahlian Umum adalah materi pendidikan yang memberikan dasar pengetahuan keahlian dalam bidang Neurologi agar mampu memecahkan permasalahan kesehatan neurologi.

 

 

 

 

Tabel 3. Materi Keahlian Umum (MKU)

KODE

MATERI

SKS

MKU 01

Neuro-anatomi

1

MKU 02

Neuro fisiologi

1

MKU 03

Neuroimunologi/endokrinologi

1

MKU 04

Neuro farmakologi

1

MKU 05

Dasar-dasar neuro imaging

1

MKU 06

Neurointensive dan neurointervensi

1

JUMLAH

 

6

 

Ø Materi Keahlian Khusus (MKK)

Materi Keahlian Khusus adalah materi pendidikan yang memberikan pengetahuan keahlian bidang Neurologi agar pakar dalam bidangnya. Materi Keahlian Khusus terdiri dari materi pendidikan dari berbagai sub disiplin dalam lingkup Ilmu Kesehatan Neurologi.

Tabel 4. Materi Keahlian Khusus (MKK)

KODE

MATERI

 

SKS

Modul Keah

lian Magister Kompreh

ensif 1:

 

MKK 01

Neuro CVD

 

2

MKK 02

Neuro  Infeksi

 

1

Modul Keah

lian Magister Kompreh

ensif  2 :

 

MKK 03

Neuro Trauma

 

2

MKK 04

Neuro Onkologi

 

1

MKK 05

Saraf        Tepi     dan

Disorders

Movement

1

 

EEG 1

 

1

 

EMG  1

 

1

 

Neurobehavior   1

 

1

 

Neuro Oftalmologi dan Otologi 1

1

JUMLAH

11

 

C. TAHAP PENERAPAN NEUROLOGI (24 SKS)

Ø Materi Penerapan Akademik (MPA)

Materi Penerapan Akademik ialah kegiatan akademik dengan menerapkan ilmu yang di dapat sebelumnya. Materi ini merupakan rangkaian kegiatan ilmiah yang langsung berhubungan dengan keilmuwan yang ditekuni. Berbagai jenis kegiatan ini bertujuan untuk membina pengetahuan, sikap dan tingkah laku ilmuwan, menguasai metode riset ilmiah, mampu membuat tulisan ilmiah dan menulis tesis ilmiah dalam mendukung keterampilan keprofesian sebagai dokter spesialis neurologi dengan menerapkan kedokteran berbasis bukti.

Tabel 5. Materi Penerapan Akademik (MPA)

KODE

MATERI

SKS

MPA 01

Penerapan Akademik I

(Presentasi  Kasus I , II, III, IV)

1

MPA 02

Penerapan Akademik II

(Baca Jurnal EEG, EMG, Fungsi

Luhur, NO-NOT)

1

MPA 03

Penerapan Akademik III

(Presentasi Kasus V, VI, VII,

VIII)

3

MPA 04

Penerapan Akademik IV

(Baca Jurnal Neuropsikiatri, Neuroimajing, Neuroemergensi,

Penyakit Dalam)

1

MPA 05

Penerapan Akademik V

(Referat Saraf Tepi)

1

MPA 06

Penerapan Akademik VI

(Presentasi     Ilmiah     :      tingkat

nasional, internasional, jurnal)

2

JUMLAH

 

9

 

 

 

 

Ø Materi Penerapan Keterampilan Klinis (MPK)

Materi ini merupakan kegiatan pelatihan keterampilan klinis dengan menerapkan  ilmu yang didapat sebelum  tujuan  kegiatan  untuk  mencapai keterampilan  (kompetensi) profesional berkualitas tinggi yang didukung oleh pengetahuan akademik yang tangguh dan mantap (scientistphysician). Dengan demikian pelayanan kesehatan akan bertaraf dan berkualitas tinggi sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi kedokteran. Strategi pelatihan adalah dengan cara  kerja praktek dibangsal dan poliklinik Rumah Sakit Pendidikan Utama maupun di Rumah Sakit Mitra melalui pendekatan Kedokteran Berbasis Bukti (Evidence Based Medicine), serta kegiatan di masyarakat untuk berlatih penerapan pendekatan pediatri sosial. Pelatihan keprofesian secara komprehensif dilaksanakan pada tahap junior dan dimantapkan sehingga mencapai kemampuan dokter spesialis pada tahap senior. Melalui kerja praktek  selain  untuk mencapai keterampilan klinis (skill) peserta program juga mendapatkan penguatan (strengthening) dalam penguasaan keilmuan (knowledge) melalui Kegiatan Materi penerapan Akademik.

Tabel 6. Materi Penerapan Keterampilan Klinis (MPK)

KODE

MATERI

SKS

MPK 01

Penerapan Keterampilan Klinis I

(Ruang Neuroemergensi)

2

MPK 02

Penerapan Keterampilan Klinis II

(Ruang Rawat Inap CVD)

2

MPK 03

Penerapan Keterampilan Klinis III

(Ruang Rawat Inap Trauma Cerebrospinal)

2

MPK 04

Penerapan Keterampilan Klinis IV

(Ruang Rawat Inap CVD-Infeksi)

3

MPK 05

Penerapan Keterampilan Klinis V

(Ruang Rawat Inap Onkologi)

2

MPK 06

Penerapan Keterampilan Klinis VI

(Ruang High Care Unit)

2

MPK 07

Penerapan Keterampilan Klinis VII

(Ruang Poliklinik)

2

JUMLAH

15

3.3 Perkuliahan atau Pembelajaran

Ø  Proses pendidikan untuk menghasilkan dokter spesialis

a.      Proses Pendidikan

Proses pendidikan dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip metode ilmiah. berupa kemampuan scientific problem solving approach dan decision making berbasis bukti evidence based medicine. Bentuk kegiatan berupa kuliah, diskusi kelompok, mandiri, tutorial, kegiatan bangsal, ruang gawat darurat dan poliklinik. kegiatan ini mencakup pendidikan akademik dan pelatihan keprofesian.

b.      Kuliah

Dilaksanakan kuliah dua arah sesuai dengan lama pembelajaran.

c.       Presentasi kasus 

Dilakukan dalam kelas dengan dihadiri oleh staf pengajar, narasumber di departemen neurologi dan departemen lain yang dibutuhkan, kemudian kasus dibahas dari beberapa aspek.

d.      Diskusi rawat inap

Pada semester II/III, dilakukan pelatihan keprofesian mencakup diskusi tentang pasien, permasalahan neurologi dan rencana selanjutnya.  

e.       Diskusi rawat jalan

Dilakukan selama pelatihan keprofesian di poliklinik.

f.        Pembacaan Jurnal

Dilakukan pembacaan jurnal literatur terbaru didiskusikan dalam kelompok terbatas di ruang rawat jalan dan inap dan pelatihan subspesialis.

g.      Referat / Tinjauan Pustaka

Pembacaan referat dilaksanakan bila peserta program akan menyelesaikan pelatihan keprofesian subspesialis dan membuat penelitian akhir.

h.      Laporan Kematian

Kegiatan ini dilakukan untuk mengetahui penyebab kematian penderita dan melihat seluruh langkah penanganan penderita.

i.        Pembuatan Proposal 

Pada semester III/IV, seorang peserta diharuskan membuat proposal penelitian yang diuji oleh staf bagian neurologi. Apabila telah disetujui dilanjutkan dengan penelitian dan diakhiri dengan ujian seminar hasil selambat-lambatnya semester VI. Ketua Program Studi akan menunjuk Tim Penguji Usulan Penelitian yang terdiri atas : Ketua Kekhususan yang bersangkutan, salah seorang pengajar di divisi yang bersangkutan yang bukan merupakan pembimbing bagi peserta (atas usul Ketua Departemen/Ketua Divisi) dan seorang pengajar/pakar di luar kekhususan bersangkutan (ditetapkan oleh Program studi).

Bila setelah usulan penelitian diganti masih tetap ditolak oleh tim penilai, maka Ketua Program Studi mengusulkan pada Ketua

Departemen/Ketua divisi untuk melakukan perubahan susunan Pembimbing Tesis.

j.        Pelaksanaan penelitian

Apabila suatu Usulan Penelitian telah diterima, peserta dianjurkan untuk segera memulai penelitian walupun seluruh SKS yang diwajibkan belum diambil secara lengkap. Sebagian besar penelitian harus dilakukan oleh peserta sendiri, tidak diserahkan kepada orang lain, dengan cara dan dalih apa pun.

Semua penelitian yang menggunakan manusia dan hewan sebagai subjek percobaan harus mendapat persetujuan dari panitia etik penelitian kedokteran yang dibuktikan dengan surat lulus kaji etik oleh panitia tersebut.

k.       Penulisan penelitian

Teknik penulisan penelitian mengacu pada Panduan Penulisan TesisProgram Studi Pendidikan Akademik Kedokteran Profesi Dokter  Spesialis–I Neurologi.

l.        Ujian Board Nasional 

Pada semester akhir setelah menjalani pelatihan keprofesian di rawat jalan/inap/subspesialis dan departemen lain, peserta program menjalani ujian board nasional. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Kolegium Neurologi Indonesia.

m.    Modul Pendidikan 

Peserta Program mengikuti pendidikan akademik profesi yang diperhitungkan dengan satuan kredit semester (SKS). Untuk melaksanakan strategi pembelajaran yang efisien dan memenuhi persyaratan maka disusun substansi pendidikan akademik dan profesi dalam bentuk modul pendidikan. Ø Rancangan proses pembelajaran yang terkait dengan penelitian mahasiswa

(residen)

Rancangan proses pembelajaran sehubungan dengan penelitian adalah :

•      Penyajian sari pustaka

•      Proposal penelitian

•      Tesis

•      Penyajian tesis

Yang termasuk kegiatan pra-seminar/diskusi kelompok sehubungan dengan penelitian adalah :

•      Ujian proposal penelitian

•      Ujian tesis pra-seminar

Ujian tesis tertutup, di depan dewan penguji sebelum ujian tesis seminar di depan sidang pleno.

Ø  Rancangan proses pembelajaran yang terkait dengan pengabdian kepada masyarakat oleh mahasiswa (residen)

Rencana proses pembelajaran pengabdian masyarakat sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan Tinggi (Permendikbud 49 tahun2014) yaitu :

a.      Standar isi pengabdian kepada masyarakat : kedalaman dan keluasan materi bersumber dari hasil penelitian dan pengembangan IPTEK

b.      Standar proses pengabdian kepada masyarakat : perencanaan, pelaksanaan dan pelaporan, mempertimbangkan standar mutu, keselamatan kerja, kesehatan, kenyamanan kerja, serta keamanan peneliti, masyarakat dan lingkungan.

c.       Standar penilaian pengabdian kepada masyarakat : minimal memenuhi prinsip edukatif, akuntabel, dan transparan, memperhatikan kesesuaian dengan standar hasil, isi dan proses penelitian, tingkat kepuasan masyarakat, terjadinya perubahan sikap, pengetahuan dan keterampilan, teratasinya masalah, terciptanya produk.

d.      Standar pelaksana pengabdian kepada masyarakat : menguasai metodologi penerapan keilmuan yang sesuai dengan bidang keahlian, jenis kegiatan, tingkat kerumitan dan tingkat kedalaman sasaran kegiatan

e.       Standar sarana dan prasarana pengabdian kepada masyarakat : fasilitas yang dimanfaatkan untuk pengabdian kepada masyarakat memenuhi standar mutu, keselamatan kerja,  kesehatan, kenyamanan dan keamanan pelaksana, masyarakat serta lingkungan.

f.        Standar  pengelolahan  pengabdian  kepada  masyarakat  :  kelembagaan  pengelola  harus melakukan fungsi perencanaan pelaksanaan, pengendalian, pemantauan evaluasi dan pelaporan kegiatan pengabdian kepada masyarakat

g.      Standar pendanaan dan pembiayaan pengabdian kepada masyarakat : Perguruan Tinggi menyediakan dana untuk kegiatan aktivitas maupun manajemen kelembagaan pengabdian kepad amasyarakat.

 

Pilar Tridharma perguruan tinggi terdiri dari pendidikan, penelitian dan pengabdian/pelayanan pada   masyarakat.     Universitas  sebagai  organisasi pendidikan sebagai  pelaksana   pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat, harus menetapkan kriteria yang dapat menjamin hasil dari seluruh produknya, dan pada saat yang sama harus sesuai dengan harapan masyarakat. Hal ini juga sebagai memperkenalkan Fakultas Kedokteran pada masyarakat. Dengan semakin banyaknya pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh mahasiswa/residen Fakultas Kedokteran maka peran serta dan  sumbangan  keilmuan  FK UNSYIAH semakin  terasa manfaatnya oleh  masyarakat Aceh. Pengabdian/pelayanan kepada masyarakat berorientasi kepada terciptanya kesejahteraan rakyat Indonesia dan kemanusiaan. Universitas mempunyai kewajiban kepada masyarakat untuk memberikan hasil yang berkualitas dan sesuai dengan harapan masyarakat. Tercapainya harapan masyarakat dijamin dengan selalu mencari masukan dari lingkungan dalam masyarakat, sehingga hasilnya sesuai dengan kebutuhan lapangan pekerjaan dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa dan negara. Staf pengajar melakukan pengabdian masyarakat dengan mengikutsertakan residen dalam melakukan kegiatannya.

Proses untuk membuat suatu pengabdian pada masyarakat dimulai dengan tahap perencanaan (mendiskusikan tempat, bentuk kegiatan, sarana yang dibutuhkan), melakukan survey, serta keterlibatan dalam kegiatan (penyuluhan, kunjungan rumah) dan membantu dalam penyusunan laporan. Tujuan dari suatu pendidikan yang terkait dengan pengabdian masyarakat adalah dapat terwujudnya Pengabdian kepada Masyarakat berbasis penalaran dan karya penelitian yang bermanfaat dalam memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

 

Ø  Sistem penilaian pembelajaran dan tata cara pelaporan penilaian

Tujuan evaluasi hasil pendidikan adalah untuk mengetahui apakah peserta program studi telah mencapai kompetensi kemampuan akademik profesional sesuai dengan kurikulum pendidikan. Untuk mengetahui pencapaian tujuan pendidikan dilakukan penilaian yang umumnya mencakup :

1. Bidang kognitif:

•      Pengetahuan dan pemahaman

•      Pemecahan masalah dan pengambilan keputusan klinik

2. Bidang psikomotor:

•      Keterampilan klinik non operatif

•      Keterampilan klinik operatif

3. Bidang afektif :

•      Hubungan inter-personal

•      Sikap dan kebiasaan kerja professional

3.4 Sistem Evaluasi Hasil Belajar dan Batas Waktu Studi

Evaluasi atau penilaian/ujian (evaluationor assessment/examination) adalah proses membandingkan kinerja seorang peserta didik dengan kriteria standar yang telah ditetapkan oleh profesi. Evaluasi atau ujian merupakan tahapan yang tidak dapat dipisahkan dan aspek terpenting di dalam kurikulum pendidikan dokter spesialis neurologi. Pencapaian kompetensi para peserta didik dan tingkat keberhasilan pelaksanaan program dapat diketahui  melalui proses ujian dan evaluasi program. Ujian bagi para peserta didik dapat menjadi indikator dan prediktor pencapaian tujuan pembelajaran di dalam kurikulum. Ujian,  baik dalam bentuk ujian formatif maupun sumatif, dapat memberikan dampak pada proses belajar para peserta didik (Assessment drives learning).

Mengacu pada tujuan pendidikan dan metodologi evaluasi tersebut, para pengelola dan penguji program pendidikan dokter spesialis neurologi seyogyanya mengetahui, memahami, dan menerapkan proses evaluasi dan ujian sesuai dengan standar yang telah ditetapkan oleh Kolegium Neurologi Indonesia dengan benar dan konsisten. Evaluasi yang digunakan harus mengikuti kaidah evaluasi yang menganut azas kesahihan (validity) dan keandalan (reliablity), kepraktisan (practicability), dan dampak terhadap proses pendidikan (educational impact). Seluruh domain pendidikan yang terdapat pada berbagai area kompetensi dokter spesialis neurologi harus diuji dengan metode-metode yang tershahih. Oleh karena itu, jenis ujian di dalam proses pendidikan harus dilaksanakan secara bertahap, kontinyu, dan integratif selama fasefase pendidikan di dalam kurikulum.

Dengan mempertimbangkan berbagai hal tersebut di atas dan kebutuhan pelayanan neurologi nasional di Indonesia, maka Kolegium Neurologi Indonesia menetapkan sistem evaluasi dan ujian program pendidikan dokter spesialis bedah, baik pada tingkat lokal maupun nasional sehingga baku standar pendidikan dokter spesialis neurologi dapat dilaksanakan oleh berbagai pusat pendidikan. Buku panduan evaluasi dan ujian Kolegium Neurologi Indonesia disusun untuk menjadi rujukan berbagai pusat pendidikan dokter spesialis neurologi di dalam pelaksanaan ujian lokal, maupun nasional. Sistem evaluasi dan ujian pada program pendidikan dokter spesialis neurologi terdiri dari sistem evaluasi dan ujian lokal, serta ujian nasional yang terdiri dari dua tahap yaitu ujian nasional tahap I (Neurologi Dasar) dan ujian nasional tahap II (Neurologi Lanjut).

Secara garis besar evaluasi selama masa pendidikan dilaksanakan secara bertahap, berkala dan berkesinambungan. Evaluasi hasil pendidikan bersifat sumatif untuk menentukan keputusan disamping bersifat formatif untuk memberikan umpan balik kepada Peserta Program. Setelah dinyatakan lulus semua evaluasi berkala,  peserta pendidikan diharuskan menempuh Evaluasi Nasional. a. Evaluasi berkala

Sesuai dengan tahap pendidikan dapat dilakukan evaluasi sumatif secara berkala. Kegiatan ini dimulai dengan evaluasi tahap awal yang dilakukan pada semester-semester awal kemudian dirancang evaluasi berkala tahap-tahap selanjutnya.

b. Evaluasi akhir

Pada tahap akhir pendidikan, dilaksanakan evaluasi akhir secara komprehensif. Evaluasi tahap akhir dilakukan apabila peserta program telah menyelesaikan semua tahap pendidikan dan telah lulus dalam evaluasi berkala sebelumnya. Umumnya setiap program studi melaksanakan dua tahap evaluasi akhir.

 

Evaluasi hasil belajar terdiri dari :

1.    Evaluasi awal (pre-assessment). Dapat dilakukan pada awal setiap modul/setiap, unit untuk mengetahui kemampuan ranah kognitif, psikomotor  dan afektif yang belum dikuasai oleh Peserta Program

2.    Evaluasi modul/unit. Dilakukan pada Peserta Program junior dan senior pada pertengahan dan akhir setiap modul/unit

3.    Evaluasi tahapan (evaluasi antara). Dilakukan pada akhir setiap tahapan

4.    Evaluasi berkesinambungan. Dilakukan selama bekerja dalam unit/modul tahap/program yang mencakup aspek kognitif, psikomotor dan afektif

5.    Evaluasi akhir. Sebagai evaluasi terakhir Peserta Program senior yang sudah menyelesaikan semua kegiatan sebelum Evaluasi Nasional

6.    Evaluasi Nasional. Dilakukan setelah dilaksanakan dan lulus semua tugastugas kegiatan akademik dan pelatihan keprofesian dan telah lulus evaluasi akhir.

Cara evaluasi (instrumen evaluasi) :

Berbagai cara dapat digunakan oleh masing-masing program studi sebagai berikut:

•     Ujian tulis untuk menilai pengetahuan

•     Ujian lisan untuk menilai kognitif (clinical reasoning skill)

•     Ujian kasus untuk menilai kognitif dan psikomotor

•     Ujian praktek

•     Ujian Presentasi makalah

•     Ujian Tesis

•     Ujian Board, Kognitif

Pokok bahasan dalam ujian tulis meliputi berbagai aspek ilmu kedokteran dan Neurologi.

Cara atau instrumen ujian yang dipakai adalah :

•     Soal pilihan jamak (Multiple Choice Question=MCQ)

•     Esai (essay)

•     Bentuk essay yang disukai ialah essay dengan modifikasi (modified essay question)

 

1.         Ujian tulis

Ujian tulis dilakukan pada setiap pelaksanaan kegiatan dalam unit/modul/tahap/program dapat dilakukan berupa :

a.       Ujian awal tertulis

 Dimaksudkan sebagai ujian formatif untuk mengetahui sejauh mana prasyarat dan pokok bahasan telah difahami peserta program

b.      Ujian pertengahan tertulis

 Dimaksudkan sebagai ujian formatif yang akan memberi umpan balik (feedback) kepada Peserta Program dalam upaya pencapaian sasaran belajar.

c.       Ujian akhir tertulis

 Dimaksudkan sebagai ujian sumatif yang akan menentukan keberhasilan pendidikan.

2.         Ujian lisan/praktek

 Ujian lisan dilaksanakan bersamaan dengan ujian praktek umumnya diberikan pada akhir unit/modul/tahap/akhir program dalam bentuk ujian pasien (kasus) atau ujian keterampilan dengan memakai lembar penilaian khusus. Ujian lisan/praktek terdiri atas : a. Ujian lisan akhir unit/modul/tahap

 Pasien (kasus) dapat dipakai sebagai entry untuk membahas lingkup Neurologi secara komprehensif.

b.      Ujian lokal (pendadaran)

 Sebagai evaluasi akhir program dengan menggunakan kasus panjang dan kasus pendek dengan tim penguji lokal untuk membahas lingkup kesehatan neurologi secara komprehensif.

c.       Evaluasi Nasional

 Dengan menggunakan kasus panjang dan kasus pendek dengan tim penguji nasional untuk membahas lingkup kesehatan neurologi secara komprehensif.

3.         Ujian kasus untuk menilai kognitif dan psikomotor

Penilaian kegiatan sehari-hari dilakukan selama bekerja dalam unit/modul tahap program (dipoliklinik, bangsal, laboratorium, penyuluhan dan kegiatan lain) yang mencakup aspek kognitif, psikomotorik dan afektif. Masing-masing Peserta Program mempunyai buku catatan harian (buku log) yang kemudian dapat dimasukkan dalam buku profil Peserta Program.

Penilaian pada umumnya dilakukan dengan menggunakan Lembar penilaian khusus berdasarkan logbook dan profil Peserta Program.

 

 

1. Pemberian Angka, Skorsing dan interpretasi

Tabel 7. Angka, Nilai Mutu, Markah dan Interpretasinya Pada Sistem Penilaian Peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis

ANGKA

NILAI

MUTU

MARKAH

INTERPRETASI

80-100

4.00

A

Baik Sekali

76-79

73-75

3.70

3.30

A-

B+

Baik

70-72

3.00

B

Cukup

66-69

63-65

60-62

56-59

2.70

2.30

2.00

1.70

B-

C+

C

C-

Kurang

50-55

< 50

1.00

0.00

D

E

Kurang

Sekali

 

Nilai Batas Lulus (NBL): 70 (IPK = 2,75)

 

Untuk menghitung IPK dipakai rumus 

IPK = Σ (sks x Nilai modul) 

Σ sks seluruhnya

Pada Kegiatan Profesi dilakukan Sesuai Tahapan Peserta Program yaitu :

Ø Tahap orientasi

 Akhir tahap orientasi (minggu ke 2) dilaksanakan ujian teori dan pemeriksaan fisik.  Batas lulus NBL 7.0 (IPK 2.75).Sanksi : bila tidak lulus, peserta tidak dapat mengikuti kegiatan selanjutnya.

Ø Tahap Pembekalan

 Selama semester awal dilakukan evaluasi ketat secara berkala dengan instrumen evaluasi yang meliputi:

•  Ujian tulis

•  Ujian lisan

•  Ujian praktek

•  Observasi sehari-hari.

 

Ø Tahap Magang

                                             Kegiatan di seluruh sub-sub bagian (NO, EEG, EMG/EP, Neuro-

behaviour) tidak dapat dilanjutkan sebelum  peserta menyelesaikan ujian, pembacaan jurnal & referat sesuai dengan ketentuan di sub-bagian masingmasing.Setiap peserta di masing-masing poliklinik melakukan pembacaan jurnal dan melaksanakan ujian.PPDS dapat melanjutkan ke tahap berikutnya bila telah lulus ujian dan menyelesaikan  kegiatan.

Ø Tahap Mandiri

 Kegiatan dibagian lain (IPD, ICU, IKA, Radiologi, Psikiatri, dan Stroke Unit) dianggap selesai bila telah ada laporan/tanda tangan dari bagian yang bersangkutan. Bila tidak memenuhi syarat tersebut, peserta tidak dapat melanjutkan kegiatan berikutnya.

2. Seminar Hasil Tesis

Seminar hasil tesis merupakan penilaian tesis, sekaligus merupakan penilaian akhir yang bersifat komprehensif bukan hanya terhadap hasil penelitian tesis akan tetapi juga terhadap pengetahuan/ilmu yang dipelajarinya selama pendidikan.

§ Pelaksanaan Seminar Hasil Tesis

Ujian dilaksanakan oleh tim penguji dan semua staf yang bersedia ikut. Keputusan ditentukan oleh nilai yang diperoleh berdasarkan hasil penilaian tim pengujian

§ Perhitungan bobot tesis

Bobot tesis setara dengan 8 SKS, sehingga cukup penting dalam perhitungan IPK akhir untuk predikat kelulusan.

§ Pelaksanaan Board Examination

Pelaksanaan Ujian Board Nasional (Kolegium Neurologi Indonesia) Tulisan dan LisanUjian Board Nasional tulis dilaksanakan setelah selesai seluruh pelatihan keprofesian. Dinyatakan lulus apabila nilai ≥ 70 pada setiap divisi. Bila nilai tidak mencapai 70, peserta program harus mengulang ujian tulis. Ujian Board Nasional dilaksanakan oleh Kolegium Neurologi Indonesia secara nasional. Dinyatakan lulus apabila mendapatkan nilai ≥ 70.

 

 

3. PUTUS STUDI

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Akademik Kedokteran Profesi Dokter Spesialis -1 dinyatakan putus studi :  

a.       Apabila pada evaluasi 2 semester pertama tidak memperoleh indeks prestasi minimal 2,75 (dua koma tujuh puluh lima ) dari sekurang kurangnya 18 (delapan belas) sks terbaik.

b.      Apabila pada evaluasi ahir masa studi tidak memperoleh prestasi minimal 2,75 (dua koma tujuh puluh lima) dari beban studi yang dipersyaratkan dengan nilai terendah C.

c.       Masa pendidikan melampaui n +  ½ n (1 ½ n)

d.      Apabila yang bersangkutan mendapat sangsi atas pelanggaran tatatertib kehidupan kampus.

4. JADWAL DAN TEMPAT UJIAN NASIONAL

Syarat tempat Ujian Nasional :

1) Pusat pendidikan prodi PPDS Dokter Spesialis Neurologi yang memenuhi syarat sebagai berikut :

§  Tersedia 4 ruang kamar ujian profesi beserta kelngkapan sarana dan prasarananya.

§  Tersedia 10 ruang ujian OSCE beserta sarana dan prasarananya.

§  Tersedia satu ruangan ujian tulis dengan kapasitas minimal 50 orang.

 

5. Batas Waktu Studi

Batas Waktu Studi Pendidikan Dokter Spesialis Neurologi FK Unsyiah selama 8 (delapan) semester dengan beban studi 103 SKS.

 

 

 

 

 

 

 

 

3.5 Bimbingan Akademik, Asistensi dan Pengendalian Proses Pembelajaran

No.

Jenis              Pelayanan

kepada  Peserta didik

Bentuk kegiatan, 

Pelaksanaan dan Hasilnya

(1)

(2)

(3)

1

Bimbingan dan Teknik

Keterampilan Klinis

Bentuk                                                              Kegiatan

a.                   Akademik

    Mencakup :

-          ketepatan peserta didik dalam menjalankan jadwal ilmiah

-          penguasaan materi ilmiah (laporan jaga, laporan kasus, tinjauan pustaka, journal reading, tugas akhir) 

b.                  Non akademik     Mencakup :

-          permasalahan keluarga

-          permasalahan ekonomi 

Bimbingan dan Teknik Keterampilan Klinis dilakukan secara  individu (perorangan), grup (kelompok), atau keseluruhan peserta didik

    Pelaksanaan 

a. Bimbingan dan      teknik keterampilan   klinis akademik

-  Dilakukan dengan pembimbing akademik minimal 2x dalam 1 semester 

-  Pertemuan dengan pembimbing akademik minimal 2x dalam satu Tour of Duty

-  Pertemuan dengan pembimbing tesis untuk tugas akhir minimal  5x sampai tugas akhir selesai

-  Pertemuan dengan pembimbing minimal 3x untuk laporan kasus sampai dengan presentasi

 

 

 

-  Pertemuan dengan pembimbing minimal 3x untuk tinjauan pustaka

-  Pertemuan dengan pembimbing setiap hari untuk laporan pagi

 

b.  Bimbingan dan teknik keterampilan klinis non akademik 

-    Dilakukan sesuai kebutuhan (tergantung persoalan yang dihadapi peserta didik)

-    Materi dicatat dalam buku log peserta didik

 

Pelaksanaan bimbingan dan teknik keterampilan klinis (akademik maupun non akademik) dilakukan oleh pembimbing akademik, dokter penanggung jawab pasien, staf pengajar neurologi, pembimbing laporan jaga, sub bagian, koordinator tahap, KPS, SPS dan staf khusus yang ditunjuk oleh KPS.

 

Hasil 

-    Proses bimbingan dan teknik keterampilan klinis terlaksana sesuai jadwal,sebagian besar peserta didik dapat mengerjakan tugas-tugasnya sesuai alokasi waktu yang diberikan

-    Sebagian besar peserta didik dapat menghadapi dan mengatasi problem psikologis, keluarga dan ekonomi yang dihadapinya.

-    Peserta dapat menyelesaikan pendidikannya tepat waktu 

2

Bimbingan dalam kegiatan terintegrasi dan ekstrakurikuler 

 

 

Bentuk Kegiatan.

a. Kegiatan     yang    terintegrasi      dengan        kegiatan akademik mencakup :

•     Masa orientasi

•     Jaga

 

 

 

•     Bedside teaching

•     Presentasi ilmiah

•     Tugas mandiri

•     Kuliah tamu

b. Kegiatan ekstrakurikuler mencakup :

•     Kegiatan olahraga sepak bola

•     Kegiatan kerohanian

•     Kegiatan outbound

•     Kegiatan gathering

•     Pelatihan Public Speaking

•     Pelatihan Leadership

•     Hafidz Qur’an

•     Kursus bahasa Inggris

•     Organisasi Residen

•     Kegiatan sosial

•     Kepanitiaan kegiatan ilmiah (lokal, regional.

nasional)

Pelaksanaan

a.    Kegiatan    yang    terintegrasi        dengan             kegiatan akademik dilakukan sesuai dengan  kalender kegiatan akademik 

b.    Kegiatan ekstrakurikuler   Kegiatan olah raga : 

Sepak bola satu minggu satu kali Ø Kegiatan kerohanian 

Tausiyah/buka puasa/tarawih bersama satu tahun tiga kali (setiap bulan Ramadhan)

Kajian islami setiap hari Rabu di Mesjid Ibnu Sina Raudhatul Jannah di RSUDZA

Tahsin setiap hari Sabtu di Mesjid Ibnu Sina Raudhatul Jannah di RSUDZA

Ø Kegiatan Outbound (insidental)

 

 

Ø Kegiatan gathering

-  Perkenalan residen baru satu tahun dua kali

-  Halal bi halal satu tahun satu kali

-  Buka puasa bersama satu tahun satu kali

-  Temu alumni direncanakan dilakukan 1 tahun sekali, sudah pernah dilakukan sekali

-  Kegiatan sosial insidental, baik secara mandiri maupun bekerjasama dengan organisasi lain misalnya kegiatan pengiriman bantuan obat dan layanan kesehatan pada saat Gempa Takengon 2013.

c. Kepanitiaan kegiatan ilmiah

•      Pertemuan ilmiah tahunan (PIT) dan Musyawarah Nasional PERBANI 2013

•      Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Nasional BTKV 2015

Hasil

-            Peningkatan rasa tanggung jawab

-            Peningkatan kemampuan komunikasi

-            Peningkatan kemampuan adaptasi dan social

skills

-            Peningkatan kemampuan bekerjasama dalam

tim 

-            Tersalurkannya minat dan bakat residen

-            Peningkatan kepekaan dan 

-            Kepedulian sosial

 

 

 

 

 

 

 

3.6 ADMINISTRASI AKADEMIK

Persyaratan dan seleksi yang harus dipebuhi oleh calon PPDS adalah persyaratan administrasi dan lulus akademik. Adapun persyaratan tersebut adalah sebagai beikut :

1.      Dokter Warga Negara Indonesia lulusan Fakultas Kedokteran :

a.       Lulusan Fakultas Kedokteran Perguruan Tinggi Negeri yang telah terakreditasi

b.      Lulusan Fakultas Kedokteran Perguruan Tinggi Swasta yang minimal berakreditasi B

2.      Usia < 35 Tahun saat memasuki pendidikan.

3.      IPK Sarjana Kedokteran > 2,75 ; IPK Profesi Dokter > 2,75 untuk PTN, IPK > 3,00 untuk PTS.

4.      Fotocopy ijazah Sarjana Kedokteran yang telah dilegalisir oleh pimpinan fakultas.

5.      Fotocopy ijazah Profesi yang telah dilegalisir oleh pimpinan fakultas.

6.      Fotocopy transkrip akademik S.Ked. yang telah dilegalisir oleh pimpinan fakultas (tidak menerima konversi Indeks Prestasi).

7.      Fotocopy transkrip akademik Profesi yang telah dilegalisir oleh pimpinan fakultas (tidak menerima konversi Indeks Prestasi).

8.      Sertifikat TOEFL > 450 dari Lembaga Bahasa Unsyiah, atau Lembaga lain yang diakui oleh Unsyiah.

9.      Dokter Warga Negara Asing yang mendapat persetujuan Kemenristekdikti dan memenuhi ketentuan Konsil Kedokteran Indonesia.

10.  Mengisi formulir pendaftaran Program Pendidikan Dokter Spesialis Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala dengan diketik atau ditulis tangan sendiri (dengan huruf balok) yang terdiri atas 3 (tiga) set, formulir pendaftaran dapat diperoleh di TKP PPDS-I FK Unsyiah.

11.  Surat Permohonan untuk mengikuti Program Pendidikan Dokter Spesialis Fakultas Kedokteran yang diketik atau ditulis tangan sendiri (dengan huruf balok) ditujukan kepada Rektor Unsyiah (tembusan kepada Dekan Fakultas Kedokteran Unsyiah dan kepada Ketua Program Studi terkait yang dituju).

12.  Fotocopy Kartu Tanda Penduduk (KTP)

13.  Memiliki Surat Tanda Registrasi (STR) dari Konsil Kedokteran Indonesia yang masih berlaku.

14.  Fotocopy Surat Ijin Praktek (SIP) Dokter yang masih berlaku.

15.  Surat rekomendasi dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) setempat yang menyatakan tidak pernah melakukan malpraktek atau melakukan pelanggaran kode etik kedokteran.

16.  Surat Keterangan Berbadan Sehat dari Rumah Sakit Pemerintah termasuk pemeriksaan tidak buta warna total.

17.  Surat Keterangan Bebas Penggunaan NAPZA (Narkotik, Psikotropik, dan Zat Adiktif lain), dari Rumah Sakit Pemerintah.

18.  Surat Keterangan Kelakuan Baik (SKKB) dari Kepolisian.

19.  Khusus bagi calon pelamar yang berasal dari instansi TNI dan POLRI Surat Keterangan Kelakuan Baik (SKKB) dikeluarkan dari kesatuan masing-masing yang telah dilegalisir.

20.  Bagi Pegawai Negeri Sipil wajib melampirkan fotocopy SK Calon PNS (80%) dan SK Pengangkatan PNS (100%).

21.  Bagi pelamar yang berasal dari TNI dan POLRI wajib melampirkan fotocopy Surat Perintah (Sprin) Pertama dan Surat Perintah (Sprin) Terakhir.

22.  Surat rekomendasi yang telah ditandatangani pemberi rekomendasi.

23.  Fotocopy Sertifikat kongres/seminar/pertemuan ilmiah/kursus dan penelitian dalam bidang keilmuan program studi terkait yang pernah diikuti.

24.  Tidak sedang menempuh seleksi PPDS di Universitas lain pada periode yang sama, dan tidak sedang menjadi peserta PPDS di Program Studi manapun di Universitas Unsyiah.

 

KRITERIA PEMBERIAN PERINGATAN DAN SKORSING

1.    Peserta didik yang melakukan pelanggaran/morbiditas ringan akan diberikan peringatan/teguran lisan, akumulasi pelanggaran ringan akan dikategorikan sebagai pelanggaran/morbiditas sedang.

2.    Peserta didik yang melakukan pelanggaran/morbiditas sedang akan diberikan peringatan tertulis, akumulasi pelanggaran sedang akan dikategorikan sebagai pelanggaran/morbiditas berat.

3.    Peserta didik yang melakukan pelanggaran/morbiditas berat akan diberikan sanksi skorsing yang lamanya akan ditentukan melalui rapat staf neurologi.

4.    Peserta didik yang tidak lulus 2 stase berturut-turut atau 3 stase tidak berturut-turut pada stase neurologi dasar akan diberikan surat peringatan pertama.

5.    Peserta didik yang tidak lulus 3 stase berturut-turut atau 4 stase tidak berturut-turut pada stase neurologi dasar akan diberikan surat peringatan kedua.

6.    Kriteria pelanggaran ringan, pelanggaran sedang dan pelanggaran berat ditentukan oleh rapat staf neurologi.

KRITERIA PENGHENTIAN PENDIDIKAN (DROP OUT)

1.        Melakukan perbuatan yang mencemarkan  nama baik Institusi Pendidikan/Rumah

Sakit.

2.        Melakukan pelanggaran etika

3.        Melakukan perbuatan/tindakan pidana

4.        Melakukan 2 (dua) kali kesalahan yang termasuk kategori pelanggaran/morbiditas berat  

5.        Tidak lulus 4 stase berturut turut atau 5 stase tidak berturut turut pada tahap neurologi dasar atau tidak mampu menyelesaikan pendidikan tahap neurologi dasar dalam 6 semester

6.        Tidak Lulus dua kali pada stase yang sama pada tahap neurologi dasar

7.        Diperhitungkan tidak mampu menyelesaikan pendidikan dalam 1 ½ kali masa pendidikan

8.        Menderita sakit yang kondisi penyakitnya tidak memungkinkan untuk mengikuti kegiatan pendidikan, atau membahayakan penderita, yang dinyatakan dengan surat keterangan dari Majelis Penguji Kesehatan.

9.        Mengundurkan diri sebagai peserta didik PPDS Neurologi

10.    Hal-hal yang belum diatur dalam kriteria ini. Akan di putuskan lebih lanjut melalui rapat staf bagian neurologi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

KURIKULUM

 

5.1 Profil Lulusan

Profil atau karakteristik (spesifikasi teknis) lulusan Program Studi yang dibutuhkan oleh masyarakat maupun kebutuhan pengembangan keilmuan. Dokter Spesialis yang dididik adalah Spesialis I (Sp1), dikembangkan pula sistem pendidikan yang komprehensif untuk meningkatkan kualitas dokter spesialis neurologi kedepan yang akan mampu menjawab tantangan persaingan era globalisasi dibidang pelayanan kesehatan neurologi. Kurikulum pendidikan bersifat dinamis yang berubah dan berkembang dari waktu kewaktu sejalan dengan perubahan di masyarakat. Sebagai hasil kemajuan pembangunan tingkat  kesejahteraan rakyat termasuk tingkat kesehatan akan berubah menjadi lebih baik. Pola penyakit, masalah kesehatan, morbiditas dan mortalitas akan berubah. Perkembangan ilmu dan teknologi mengakibatkan pola penanggulangan dan penanganan penyakit atau masalah kesehatan akan mengalami kemajuan dan perkembangan sehingga menjadi lebih efektif, lebih beragam dan lebih canggih namun menjadi lebih mahal. Oleh karena itu dituntut pula kemampuan menyaring dan menapis penyerapannya sesuai dengan budaya bangsa dan  tahapan hasil pembangunan untuk memenuhi tuntutan  meningkatnya kebutuhan akan pelayanan kesehatan yang lebih baik  dan berkualitas maka diperlukan tenaga kesehatan yang sesuai dan yang berkualitas yaitu tenaga kesehatan profesional yang didukung oleh penguasaan ilmu dan teknologi yang kuat dan rasional.

Karakteristik (spesifikasi teknis) lulusan Program Studi yang dibutuhkan mampu :

a.       Melayani si sehat dan si sakit dalam keluarga maupun dalam masyarakat sejak konsepsi sampai akhir usia remaja serta mempunyai kemampuan untuk menyerap, mengembangkan dan menyebarluaskan Neurologi.

b.      Meningkatkan kualitas dokter spesialis neurologi kedepan yang  mampu menjawab tantangan persaingan era globalisasi dibidang pelayanan kesehatan saraf.

c.       Meningkatkan kesehatan yang berubah menjadi lebih baik. Pola penyakit, masalah kesehatan, morbiditas dan mortalitas akan berubah.

d.      Menjadi tenaga kesehatan yang sesuai dan yang berkualitas   yaitu tenaga kesehatan profesional yang didukung oleh penguasaan ilmu dan teknologi yang kuat dan rasional.

Profesi, bidang pekerjaan atau bidang keilmuan dan keahlian yang dapat diisi oleh lulusan. Lulusan dapat ditempatkan :

–        Rumah Sakit Umum Tingkat Propinsi Tipe A dan Rumah Sakit Pendidikan

–        Rumah Sakit Umum Tingkat Kotamadya, Kabupaten

–        Rumah Sakit Ibu dan Neurologi

–        Rumah Sakit Swasta

–        Fakultas Kedokteran Negeri dan Swasta

 

5.2 Capaian Pembelajaran dan Kompetensi

DAFTAR CAPAIAN KOMPETENSI

No.

Kelompok Gangguan atau Penyakit

Tingkat

Kemampuan

 

1

2

3

4

1

Neurotraumatologi

 

 

 

2

Nyeri kepala

 

 

 

3

Gangguan kesadaran

 

 

 

4

Gangguan tidur

 

 

 

5

Gangguan fungsi luhur dan perilaku

 

 

 

6

Kejang dan epilepsy

 

 

 

7

Stroke dan gangguan neurovaskular lain

 

 

 

8

Tumor susunan saraf

 

 

 

9

Infeksi susunan saraf

 

 

 

10

Gangguan serebrospinal

 

 

 

11

Demielinasi dan vaskulitis

 

 

 

12

Komplikasi neurologik imunosupresi

 

 

 

13

Parkinsonisme dan gangguan gerak

 

 

 

14

Penyakit motor neuron

 

 

 

15

Gangguan metabolik dan toksik

 

 

 

16

Gangguan saraf kranialis

 

 

 

17