Skip to main content
x

Materi Kuliah CVD

 

DIAGNOSTIK 

 

 

Diagnostik adalah apa yang kita lakukan untuk menegakkan DIAGNOSA.

Terdiri dari:

1. ANAMNESA

2. PEMERIKSAAN

3. DIAGNOSA BANDING

 

ANAMNESA

Pada Neurologi à yang terpenting, karena berbagai penyakit, diagnosanya ditegakkan HANYA berdasarkan atas ANAMNESA saja, karena pada pemeriksaan tidak ditemukan kelainan, baik pemeriksaan klinik, laboratorium, maupun pemeriksaan diagnostik canggih (Ro, baik yang tanpa atau dengan kontras, EEG, CT SCAN dll)

Oleh karena itu ANAMNESA harus dibuat secara baik, teliti, harus dapat dipertanggung jawabkan isinya. Dan mempunyai nilai diagnostik.

Syarat ANAMNESA yang baik adalah:

1.      TERARAH (TO THE POINT) dan     lengkap pd arah yg kita maksud

2.      LENGKAP

  • Arah anamnesa adalah DIAGNOSA KLINIK.
  • DIAGNOSA KUNIK adalah : kelainan-2 Neurolagis yang dijumpai pada pemeriksaan klinis Neurologis.

Cara menegakkan DIAGNOSA KLINIK adalah dengan melakukan PEMERIKSAAN KLINIS NEUROLOGIS. Dan ini harus dilakukan sebelum membuat anamnesa lanjut. Karena kita harus tahu arahnya dulu!

Bagaimana cara kita membuat anamnesa yang LENGKAP?

Anamnesa terdiri dari 4 pola:

1. KELUHAN UTAMA

2. INSULT ATAU KRONOLOGI

3. PENYAKIT-2

4. RESIDIVITAS

 

 

 

1.      KELUHAN UTAMA

Isinya adalah yang memberi jawaban mengapa penderita dirawat (u/anamnesa penderita rawat inap). Atau mengapa penderita datang berobat (untuk penderita rawat jalan).

Penderita dirawat kalau:

1        Ada gangguan ADL (Activity of Daily Living).

2        Diperlukan explorasi lebih lanjut/pemeriksaan lanjutan.

 

1.1       Pada umumnya gangguan ADL adalah gangguan-2 yang menyebabkan penderita tidak dapat “mobile” tidak dapat kemana-mana yang mengakibatkan penderita tidak dapat bekerja atau mencari nafkah, dan/atau tidak dapat melakukan aktivitas untuk keperluan pokok pribadinya.

Selanjutnya pada keluhan utama harus ada penjelasan mengenai gangguan ADL itu oleh gangguan Neurologis apa?

Maksudnya gangguan motorik, sensorik, fungsi otonom, kesadaran dll.

Akhimya, penjelasan apakah gangguan tersebut terjadi secara akut atau tidak akut.

Hal ini perlu untuk manentukan anamnesa selanjutnya sesuai pola anamnesa apakah INSULT, atau KRONOLOGI.

Ø  Jadi kalau akut,

anamnesa selanjutnya adalah INSULT.

Ø  sedangkan kalau tidak akut,

anamnesa selanjutnya adalah KRONOLOGI

 

CONTOH UNTUK PENDERITA CVD

Penderita dirawat. di RS karena tidak dapat berjalan, yang disebabkan oleh lengan kanan dan tungkai kanan tidak dapat bergerak, yang terjadi secara mendadak.

 

PENJELASAN:

Tidak dapat “jalan” maksudnya tidak dapat mobile, bukan tidak dapat ‘berjalan”. Sebab tidak dapat berjalan, mungkin penderita telah dapat mobile dengan alat bantu jalan, kursi roda misalnya, penderita sudah dapat mobile dan dapat bekerja. Inilah yang dimaksud dengan gangguan ADL nya.

Lengan kanan dan tungkai kanan tidak dapat bergerak, merupakan penjelasan dari gangguan ADL. disebabkan oleh gangguan Neurologis apa? Dengan penjelasan ini dapat diperkirakan diagnosa kliniknya, kira-2 adalah HEMIPLEGI DEXTRA.

Terakhir: terjadi secara tiba-2, bararti akut, sehingga anamnesa selanjutnya adalah anamnesa mengenai INSULT.

NAMUN SEBELUM MELAKUKAN ANAMNESA LEBIH LANJUT, dilakukan dulu PEMERIKSAAN KLINIK NEUROLOGIS, untuk mengetahui DIAGNOSA KLINIK nya.

 

INSULT.

·         Apakah isinya INSULT?

·         Atau apa yang ditanyakan pada anamnesa mengenai INSULT?

Yang ditanyakan atau isi INSULT adalah:

GEJALA-2 kemungkinan topik dan gejala-2 kemungkinan etiologi diagnosa klinik. Yang diperlukan untuk bahan-2 diagnosa banding topik dan diagnosa banding aetiologi.

Untuk itu sebaiknya dicatat dulu apa diagnosa banding topik dan etiologinya, kemudian didaftar gejala-2 dari masing-2 kemungkinan topik dan etiologi tersebut. Dengan catatan ini kita lanjutkan anamnesa mengenai INSULT, sehingga anamnesa kita lengkap namun terarah.

 

CONTOH UNTUK CVD

·         Kemungkinan-2 lesi (d/banding topik) CVD adalah: cortex, subcortex, capsula interna.

1.      Gejala lesi di cortex adalah:

o   Ada gejala fokal (akbt lesi sebagian area motorik. co: kelemahan lengan dan tungkai tidak sama berat, monoparese brachialis/ulnaris, bicara pelo saja).

o   Ada gejala iritatif (lesi paling ringan dari susunan saraf, co: rangsang motorik: kejarig-2, rangsang sensorik: hiperestesi).

o   Gangguan defisit sensorik.

o   Disamping itu ada gejala defisit motorik yang merupakan gejala fokal (hemiplegi, monoplegi cruralis/brachialis, prese NVII dan/atau NXII, afasi motorik corticalis).

2.      Gejala lesi di subcortex adalah:

·         Ada defisit motorik

·         Ada afasi motorik mumi (pd hemisfer dominant) mungkin juga ada afasi sensorik mumi.

3.      Gejala lesi di capsula interna adalah:

·         Hemiplegi typica [hemiplegi yang disertai parese atau paralyse N VII dan N XII).

Kemungkinan etiologi (d/banding etiologi] CVD adalah: hemorrhagia cerebri, embolia cerebri dan thrombosis cerebri.

·         Gejala heemorrhagia : hemiparase sentral kontralateral yang terjadi sewaktu aktivitas, kehilangan kesadaran lebih dari 30 menit, ada hipertensi berat.

·         Gejala embolia cerebri adalah: terjadinya sewaktu serangan atrial fibrilasi, kehilangan kesadaran selama tidak lebih dari 30 menit.

·         Gejala thrombosis cerebri adalah: terjadinya sewaktu penderita sedang istirahat bisaanya sewaktu bangun tidur dan tdak ada kehilangan kesadaran.

 

Jadi anamnesa mengenai INSULT dapat berbunyi sebagai berikut

3 hari yang lalu sewaktu aktivitas (mendorong mobilnya yang mogok) penderita terjatuh dan kehilangan kesadaran, kemudian lengan kanan dan tungkai kanan sulit digerakkan. Kelumpuhan lengan lebih berat dari tungkai. Lengan kanan dan tungkai kanan ada tebal-2 dan kesemutan. 2 hari kemudian baru penderita sadar. Jantung penderita tidak berdebar-debar. Pada waktu itu penderita tidak kejarig-2.

Setelah sadar mulut penderita mengot ke kiri. Penderita bisa bicara meskipun bicaranya pelo dan penderita mengerti pembicaraan orang lain.

 

PENJELASAN

Gejala-2 kemungkinan-2 topik dan kemungkinan-2 etiologi tidak pertu diceritakan secara berurutan.

 

KRONOLOGI

KRONOLOGI adalah TAHAPAN GGN NEUROLOGIS DIKAITKAN DENGAN WAKTU

·         Jadi misalnya defisit motoric harus diceritakan tahapan2 mulai dari yang ringan (lemah à berat à sulit berjalan à tdk dpt digerakkan, sampai yang diderita penderita pada status presens. dan dijelaskan kapan terjadi tahapan-2 tersebut.

·         Demikian juga tahapan-2 defisit sensorik (parestesia à hipestesia à anestesia à hiperestesia dan fungsi otonom.

·         Gejala iritatif misalnya kejarig-2, kapan pertama kali terjadi. kemudian mulai kapan menjadi lebih frekuen, selanjutnya kapan sampai pada keadaan status presens.

Tahapan-2 atau perkembangan tersebut mulai dan ringan menuju menjadi lebih berat, harus juga mengenai tahapan: Mulai dan sebelah kiri tubuh terus ke kanan apakah sebaliknya juga dan bagian bawah keatas atau sebaliknya. Harus ditanyakan juga gejala-2 kemungkinan-2 etiologi yang terjadi bersamaan dengan tahapan tersebut. misalnya apakah ada trauma, apakah febris dll. Dengan penjelasan tahapan-2 itu sudah tercakup perjalanan penyakit. apakah kronis progresif, apakah mengalami remisi dll.

Penjelasan mengenai waktu harus seragam.

Jadi kalau disebutkan:

-          1 th yang lalu selanjutnys jugs 10 bln yang lalu, dst.nya.

kalau disebut:

-          pd l. 12 Des. 1990 selanjutnya juga disebut tgl. sekian-2. dst.nya

Sehingga mudah dimengerti.

 

 

CONTOH UNTUK PARAPLEGI INFERIOR SPASTIK.

Kemungkinan etiologi paraplegia spastik adalah:

-          spondylitis

-          trauma medula spinalis (subdural hematome)

-          s.o.l

 

SPONDYLITIS bisaanya didahului oleh proses tbc di tempat lain di hadan. misalnya paru-2. kelenjar-2 cervical. Kemudian proses ke coll. vertebralis thoracalis. Selanjutnva dapat terjadi paravertebral abscess.

Proses yang bin dan spond1itis tbc. adalah akut [terjadinya gibbus. trombosis arteri vertebralis anterior dll.)

TRAUMA MEDULLA SPINALIS bisaanya terjadi secara akut, yang tidak akut adalah hematoma subdural.

S.O.L Perjalanan kronis progresif, gejala-2 tumor di tempat-2 lain di badan. Gejala-2 kemungkinan-2 etiologi tersebut, ada yang didapat dari anamnesa, namun beberapa didapat dari pemeniksaan. Kemudian juga dilengkapi dari anamnesa mengenai: PENYAKIT-2 (pola!).

PERHATIAN : PADA DIAGNOSA BANDING BAIK TOPIK MAUPUN ETIOLOGI GEJALA-2 YANG BERDAMPAK TIDAK HANYA DARI ANAMNESA SAJA. TAPI JUGA DARI PEMERIKSAAN.

Jadi anamnesa mengenai KRONOLOGI, dapat berbunyi sebagai berikut

-          2 bulan yang lalu kedua tungkai penderita mulai terasa kesemutan pada ujung-2 jari-2 kiri maupun kanan.

Sebelumnya tidak ada trauma, tidak ada benjolan di punggung.

Penderita sering demam-2.

-          1 bulan yang Lalu mulai tebal-2, di ujung jari sampai pusar. Jalan mulai lemah, dan lekas capek. dan tersandung-2.

-          2 minggu yang lalu penderita tidak dapat jalan lagi, miksi sukar dan defekasi juga sukar. Kedua tungkai masih dapat digerakkan.

-          1 minggu yang lalu masuk rumah sakit. tidak dapat jalan, tidak dapat miksi dan defekasi, dan penderita demam.

 

 

3.      PENYAKIT -2

Isi anemnesa ini adalah penyakit-2 yang berhubungan langsung dengan kemungkinan-2 etiologi diagnosa klinis. Sebagai tambahan dapat pula dijelaskan predispossing factors dari kemungkinan-2 etiologi itu.

 

4.      RESIDIVITAS

Apakah pasien pemah menderita penyakit yang sama sebelumnya. Dalam hal hi penyakit yang lalu tidak perlu dibuat anamnesa lengkap, cukup disebut gejala klinik. dan kalau mungkin etiologinya. (Kalau CVD berulang anamnesisnya adalah yg sekarang).

Ini adalah akhir dari anamnesa.

ANAMNESA disunting sedemikian rupa berurutan seperti pola yang telah ditentukan namun setelah selesai judul-2 pola tidak perlu ditulis. Meskipun demikian kita yang membacanya akan mengetahui bahwa anamnesa yang kita buat adalah rapi, berurutan, dan yang paling penting sesuai dengan syarat anamnesa yaitu: TERARAH dan LENGKAP.

 

PEMERIKSAAN

Pemeriksaan terdiri dari:

1.      PEMERIKSAAN KLINIS NEUROLOGI

2.      PEMERIKSAAN LABORATORIUM

3.      PEMERIKSAAN DENGAN ALAT -2 DIAGNOSTIK

-          EEG

-          EMG

-          RO FOTO (plain Ro/ dengan Kontras)

-          Ct. Scan dll.

 

DIAGNOSA BADING

Sesuai dengan namanya maka DIAGNOSA BANDING adalah membandingkan

-          gejala-2 dan kemungkinan-2 baik topik maupun aetiologi.

-          gejala-2 pada kasus kita, yaitu penderita kita yang kita periksa, pertama disebutkan dulu kemungkinan-2nya.

CONTOH

Misalnya pada Hemiparese ok. CVD.

DIANOSA BANDING TOPIK

1.      Cortex Cerebri

2.      Subcortex

3.      Capsula interna

Kalau diagnosa topiknya cortex cerebri sebaiknya urutannya adalah:

1.      Subcortex

2.      Capsula interna

3.      Cortex cerebri

 

1.      Laesi di subcortex gejalanya:

-          defisit motorik

-          afasi (subcorctical kalau hemisfir Dom

Jadi: laesi di subcortex dapat disingkirkan.

Pada penderita ada gejala:

-          Hemiparese dextra spastik

-          afasi corticalis

2.      Laesi di capsula interna gejalanya adalah

-          hemiparese/hemiplegi typica

 

Jadi: laesi di capsula interna dapat disingkirkan.

Pada penderita ada gejala

-          Hemiparese dextra spastik

-          Tidak ada parese N.VII & N.XII

3.      Laesi di cortex cerebri gejalanya adalah:

-          Ada gejala fokal

 

-          Defisit motorik

-          Ada gejala iritatif

 

-          Afasi corticalis

 

 

-          Defisit sensorik

Jadi: Laesi di cortex cerebri belum dapat disingkirkan.

Pada penderita ada gejala :

-          Kelumpuhan lengan lebih berat dan tungkai

 

-          Ada kejarig kanan dan tungkai kanan sebelum kelumpuhan.

-          Pend tidak dapat mengutarakan isi hati dalam kata-2, tulisan/isyarat 

-          Hipestesi lengan ka & tungkai ka

KESIMPULAN:

-          Laesi di subcortex dapat disingkirkan,

-          Laesi di capsula interna dapat disingkirkan

-          Laesi di cortex belum dapat disingkirkan

 

JADI DIAGNOSA TOPIK adalah:

CORTEX CEREBRI

 

Untuk diagnosa banding etiolog caranya sama. Gejala-2 didapat dari anamnesa dan dari pemeriksaan.

 

PEMERIKSAAN

Pemeriksaan hi metiputi:

1.      Pemeriksaan status internus

2.      Pemeriksaan status psikiatrikus

3.      Pemeriksaan neurologi

4.      Pemeriksaan laboratorium

5.      Pemeriksaan dgn alat-alat elektrodiagnostik neurologi (EEG, EMG, CT-Scan, Ro foto bisaa/dgn kontras).

 

Ad 1. PEMERIKSAAN STATUS INTERNUS

·        Kesadaran : Observasi derajat kesadaran didasarkan pada aktivitas motorik spontan, refleks-refleks dan fgs.vegetatif Fenomena derajat kesadaran ditentukan berdasarkan respon penderita thd rangsang nyeri, taktil. verbal dsn visual.

·        1.1 Kompos mentis

Orientasi personal, tempat, dan waktu baik.

·        1.2 Apatis

Kesadaran menurun dimana penderita tampak enggan berhubungan dgn sekitarnya, tampak acuh tak acuh, jawaban yg diperoleh sgt lambat.

·        Samnoten/letargi

Penderita somnolen depat dibangunkan dgn rangsangan & akan membuat respon motorik yg layak tetapi penderita akan cepat tertidur lagi bila rangsangan dihentikan.

·        1.4 Soporous

Keadaan tidak sadar tetapi respon terhadap rangsang nyeri masih ada, refleks dapat dibangkitkan, gerakan motorik spontan tidak ada.

·        Soporokomatous

Keadaan tidak sadar disertai penurunan refleks, penderita juga tidak dapat melokalisir nyeri, refleks cahaya melemah.

·        1.6 Koma

Keadaan tidak sadar paling rendah, tidak ada respon terhadap rangsang nyeri. refleks tendo, refleks kornea, refleks pupil dan refleks batuk menghilang. Terhadap inkontinensia uri et alvi. Rangsangan nyeri dapat dilakukan dengan menekan pangkal kuku jari-jari, prosessus stiloid di leher, permukaan tulang, otot atau tendo.

Penilaian derajat kesadaran seperti yang diterangkan di atas kurang aknrat karena batasnya kurang jelas.

Jennett & Teasdale telah membuat suatu penilaian derajat kesadaran dengan meninjau 3 aspek penderita yang dituangkannya dalam bentuk angka.

Ketiga aspek tersebut adalah:

1.      Kemampuan membuka mata (eyes opening)

2.      Aktivitas motorik (Motor response)

3.      Kemampuan bicara (verbal respons)

Penilaian derajat kesadaran ini dikenal dengan Glasgow Coma Scale (GCS):

·         Kemampuan(reaksi buka mata (eyes opening) = E                                             Nilai

-          Spontan bisa buka mata secara spontan                                                            4

-          Terhadap suara bisa buka mata atas perintah                                                   3

-          Terhadap nyeri : bisa buka mata jika ada rangsang nyeri                                 2

-          Negatif  bila tidak bisa buka mata sama sekali                                                 1

·         Reaksi motorik (motor respons) = M

-          Mengikuti perintah                                                                                            6

-          Melokalisir nyeri                                                                                               5

-          Menarik ekstremitas                                                                                          4

-          Fleksi abnormal                                                                                                3

-          Ekstensi (respon ekstensi)                                                                                 2

-          Negatif (tidak ada gerakan sama sekali                                                            1

·         Reaksi Verbal (Verbal respons) = V

-          Orientasi thd personal. tempat dan waktu baik                                                 5

-          Bicara kacau                                                                                                      4

-          Tidak sesuai/kata-kata tidak benar                                                                    5

-          Tidak dimengerti/bunyi tanpa arti                                                                    2

-          Negatif (tidak keluar suara)                                                                              1

Nilai tertinggi E+M+V = 15, sedangkan nilai terendah E+M+V=3. Pada follow up penderita yang mengalami gangguan kesadaran sebaiknya dibuatkan list control yang memuat GCS.

Ø  Tekanan Darah

Tekanan darah perlu diperiksa kanan dan kiri terutama pada kasus-kasus CVD. Seperti pada penyakit Takayasu, dimana tekanan darah pada satu sisi lebih rendah. Tekanan darah meningkat yang disertai dengan sefalgia dapat dipikirkan suatu hipertensi ensefalopathy atau sudah timbulnya suatu CVD hemorragi.

Ø  Nadi

Adanya bradycardi mungkin sudah ada tanda-tanda tekanan intrakranial yang meningkat, misalnya pada kasus trauma kapitis mungkin sudah ada epidural atau subdural hematom.

Ø  Pernafasan

Frek. n /tidak. dyspnoe?. kussmaul (pernafasan cepat diselingi periode apnoe) Misalnya ggn pada batang otak anoksia otak, kelainan paru atau jantung.

Ø  Suhu : suhu yang meningkat misalnya pada meningitis atau ensefalitis.

Ø  Gizi: gizi kurang misalnya pada polyneuritis defisiensi, proses keganasan penyakit infeksi 

Ø  Jantung dan Paru-paru

Apakah ada tanda-tanda decomp cordis, bila ada akan mengurangi suplai darah (oksigen) ke otak Adanya aritmia cordis atau fibrilasi mempunyai hubungan yang erat dengan embolia cerebri. Gangguan fungsi paru dapat mengakibatkan suplai oksigen berkurang — anoksia jaringan otak — infark otak.

Ø  Hepar den Lien : teraba atau tdak

Ø  Genitalia : berhubungan dengan kelainan hormonal.

 

Ad 2.   PEMERIKSAAN PSIKIATRIK

1.      Sikap wajar atau tidak, kooperatif atau bermusuhan.

2.      Perhatian ada atau tidak

3.      Ekspresi fasial wajar atau kosong

 

Ad 3.   PEMERIKSAAN NEUROLOGIK

·         KEPALA

1.      Bentuk/ukuran kepala:

Normal (brachycephalus) dimana ukuran frontoccipital kurang lebih sama dengan bi-temporal.

Makrocephalus kepala tampak lebih besar tetapi dibandingkan dengan besamya wajah muka tidak berbeda jauh

Hydrocephalus di sini tengkorak bagian calvari membesar, dan dahi menonjol dan bola mata tampak tenggelam di dalam orbita sehingga sebagian karena tertutup kelopak mata bawah. Disamping itu pembuluh vena tampak jelas pada dahi dan pelipis. Pada palpasi sutura tengkorak mudah diraba. Bita dperkusi terdengar suara seperti kendi retak. Mikrocephalus: Dahi dan calvaria sangat kecil.

2.      Pembuluh darah:

Pembuluh darah nadi yang menebal keras dan nyeri tekan merupakan gejela yang sering ditemukan pada sakit kepala arteritis temporalis. Hemangioma Nevi pada muka pada Sturge-Weber Disease ditemukan port-wine nevus pada muka.

3.      Tanda-tanda trauma kepala

-          Hematom

-          Luka

-          Fraktur (impresi taktur)

Di sini perlu ditentukan besar/ukuran dan lokalisasi (pada kepala)

4.      Nyeri Tekan

Pada mastoiditis dan sinusitis didapatkan nyeri tekan pada tulang mastoid dan daerah sinus maksilaris.

5.      Tumor/Benjolan perhatikan besamya, konsistensi dan lokalisasinva.

6.      Fontanella

Ubun-ubun besar yang tegang/cembung pada anak kecil merupakan tanda tekanan intracranial meningkat.

7.      Wajah Muka Simetris/Asimetris atau Amimik.

 

LEHER

    1. Sikap Leher

-          Normal                   : lurus

-          Kaku kuduk           : gerakan leher terbatas

-          Torticolis               : leher tampak seperti terpuntir

-          Hyperekstensi        : leher menengadah maksimal

    1. Tumor/benjolan perhatikan besamya, konsistensi dan lokalisasinya
    2. Pembuluh darah

Perhatikan denyutan vena Jugularis Interna (pada penyakit jantung dan arteri carotis (pada hipertensi, anemia, thyrotoxicosis)

    1. Dudukan Trakea

Pergeseran ke salah satu sisi menunjukkan adanya proses desak ruang di mediastinum atau paru-paru.

    1. Kelenjar leher

Kelenjar limfa : ada pembesaran / tidak adanya pembesaran kelenjar bisa karena peradangan akut/menahun atau metastasis tumor ganas. Kelenjar Thyroid: bentuknya dapat diketahui jika kepala ditengadahkan sambil penderita disuruh menelan ludah/air. Pada waktu itu diperhatikan kontur den simetrinya. Pembesaran kelenjar secara noduler dengan konsistensi keras dan tidak dapat digerakan menunjukan suatu keganasan.

 

NERVI CRANIALES

·         Saraf otak adalah saraf perifer yang berpangkal pada otak & batang otak.

N.1            lgs berhub dengan otak tanpa melalui batang otak

N. 2.3        berpangkal di mesencephalon

N. 4-7        berpangkal di pons

N 8-12       berpangkal di medulla oblongata

·         Semuanya mendapat persarafan bilateral kecuali N. 7 & N. 12

·         Fungsi: 1. Sensorik                          N.1,2,8

2. Motorik                           N.3.4.6.11.12

3. Sensorik & motorik        N.5,7,9,10

4.  Fgs khusus                     Pancaindera

 
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

N.1 = N. Olfactorius — sensorik  (u/indera penciuman)

Syarat:

1.      Bahan bersifat aromatic, tdk merangsang mukosa hidung, mdh dikenal

2.      Bhn yg merangsang mukosa hidung & mdh menguap dpt merangsang N.5 jg spt alkohol, ammonia.

3.      Sblmnya periksa dl jln nafas, hrs bersih, lancar, tdk ada corpus alienum

4.      Sebaiknya mata pend.ditutup

Cara:

Sblmnya pend. diberitahu bhw penciumannya akan diperiksa, kmd ia diminta mengidentifikasi bau apa yg didekatkan pada hidungnya sec.bergantian.

Kelainan penciuman:

Anosmia:

-          hilangnya daya penciuman [hampir selalu mengganggu daya pengecap)

-          flu/infeksi lainnya

-          rhinitis kronik

-          trauma capitis (basis cranii anterior),

-          meningioma olfactorii (Synd. Foster Kennedy) di fossa cranialis ant.

-          perdarahan di fossa cranialis post—anosmia persisten

·         Kelainan Penciuman Iainnya:

-          Hiposmia                                    :   daya penciuman berkurang

-          Hiperosmia                                 : daya pennciuman lebih tajam dari normal

-          Parosmia                                    : rangsangan bau ada tetapi identifikasinya salah

-          Halucinasi Olfactorik                 : mencium bau sesuatu tanpa adanya rangsangan (Tumor/infark pd uncus)

-          Kakosmia                                   : selalu mencium bau busuk

-          Syndrome Foster Kennedy        :   -       anosmia di sisi tumor

-              anopsia & atrofi papil primer di sisi tumor

-              papil edema disisi kontralateral

Etiologi gangguan olfactorik

Proses intracranial à tumor cerebri, meningitis, ensefalitis, & proses degeneratif.

·         Infeksi —flu/rhinitis

·         Trauma capitis

·         Proses yg mendasari pd anemia perniciosa à degenerasi serabut saraf olfatorik

·         Intiltrasi cabang nasofaring à destruksi serabut saraf olfaktorik

·         Rangsangan pd Korteks olfaktori primer àmenyebabkan halusinasi olfaktorik. Contoh : pd penderita epilepsy uncinate fit: halusinasi olfaktorik disertai automatisme, yaltu lidah mengecap-ngecap & bibir komat kamit.

Saraf Otak II= N. Opticus

è N. opticus tersusun dari serabut2 aferen sel ganglion opticum diretina.

è Fungsi untuk penglihatan

è Pemeriksaan meliputi

a.       Ketajaman penglihatan [Visual Acuity)

b.      Lapangan Penglihatan [Visual Field]

c.       Fundus Oculi (Funduscopy]

d.      Tes warna (Colour Vision Testing)

Ketajaman penglihatan; syarat pemeriksaan:

- Ruangan harus cukup terang

- Tidak ada gangguan/kelainan pada lensa. kornea, dan iris

- Tanyakan apakah penderita buta huruf atau tidak ;

Bila penderita buta huruf untuk kartu Snellen dipakai yang khusus yaitu:

huruf E dengan berbagai ukuran dan posisi yang berubah-ubah.

Ada 4 macam tes ketajaman penglihatan:

1. Tes Kartu Snellen.

·         Penderita duduk di kursi

·         Gantungkan kartu Snellen setinggi kedudukan mata penderita pada jarak 6 meter [s meter) dari penderita.

·         Mata kanan dan kiri diperiksa bergantian yang dapat dilakukan dengan menutup sebelJah tangan dg tangan penderita sendiri.

·         Kemudian penderita disuruh membaca huruf-huruf mulai dari atas ke bawah yang ditunjuk oeh pemeriksa pada kartu Snellen.

·         Kartu Snellen yang tersedia di Indonesia mempunya catatan disamping kiri dan kanannya. Catatan disamping kiri untuk visus yang dipenksa pada jarak 6 meter sedangkan yang disamping kanan untuk visus yang diperiksa pada jarak 5 meter. Pada tiap baris dicantumkan visus yang sesuai dengan barisan huruf itu sehingga dengan demikian penentuan visus secara kasar mudah dilaksanakan. Nilai ketajaman penglihatan normal adalth 6/6 E. Jika penderita hanya dapat membaca huruf-huruf barisan ketiga saja maka visus darah adalah 6/20 (3O%). Bila visus menurun sampai 6/60 [10%] berarti penderita tidak bisa membaca huruf-huruf barisan pertama. Maka visus hendaknya diperiksa dengan cara ke-2 yaitu: Tes Hitung Jari.

 

2.      Tes Hitung Jari

Penderita diminta menghitung jari-jari tangan pemeriksa yang diperlihatkan padanya. Bila penderita hanya dapat menghitung jari dengan betul pada jarak 3 meter, maka ketajaman penglihatan penderita dinilai sebagai  3/60. Angka 60 meter adalah jarak orang normal dapat menghitung jari dengan benar.

3.      Tes Gerakan Jari

Pada pandcrita dengan ketajaman penglihatan yang lebih buruk lagi dimana pada jarak 1 meter masih belum dapat menghitung maka penentuan visus dengan cara penderita diminta melihat gerakan jari tangan pemeriksa. Visus yang baik gerakan jari tangan dapat dikenal pada jarak 300 meter. Bila penderita hanya dapat menentukan gerakan jari tangan pada jarak 4 meter, maka visusnya 4/300.

4.      Tes Cahaya

Tes ini dilakukan pada penderita dengan visus yang sangat buruk, dimana dengan pemeriksaan menggunakan lampu senter

  • Penderita dapat membedakan arah, cahaya gelap dan terang. Ketajaman penglihatan dikatakan 1/tak terhingga [1/~) dgn proyeksi sinar baik.
  • Tetapi jika arah sinar tdk bisa, terang/gelap bisa berarti visus 1/~ dgn proyeksi jelek.
  • Ketajaman penglibatan dikatakan 0 (nol) bila penderita tidak dapat lagi membedakan baik arah, cahaya terang / gelap (buta total).

Lapangan penglihatan / Kampus Visii

·         Merupakan batas penglihatan perifer.

·         Lapangan penglihatan tersebut adalah ruang dimana suatu benda dapat dilihat oleh mata yang pandangannya ditetapkan pada satu titik.

·         Dari pemeriksaan ini diperoleh informasi tentang:

1.      Letak lesi mulai dari N. opticus sampai lobus occipitalis.

2.      Dapat mencari posisi, ukuran, dan bentuk dari bintik buta.

·         Lapangan penglihatan normal:

  • Membentang 60° nasal & 90° temporal
  • Seseorang dapat melihat ke lateral sejauh 90° - 100° dari titik fixasi.
  • Ke medial 60°, atas 50° - 60°, bawah 60° - 75°, lap sentral 20°
  • Jika kurang dari ini: anopsia, hemanopsa, scotoma

 

Di klinik dikenal dengan 2 macam tes yaitu :

1.      Tes Konfrontasi

-          Penderita duduk berhadapan dengan pemeriksa dengan posisi lutut ketemu lutut (jarak antara keduanya boleh berkisar antara 60-100 cm) dan mata ketemu mata.

-          Sebagai obyek bisa dipergunakan jari telunjuk pemeriksa.

-          Untuk pemeriksaan kampus mata kanan, maka mata kiri penderita dan mata kanan pemeriksa harus ditutup, demikian pula sebaliknya.

-          Obyek sebelum digerakkan harus berada dalam bidang yang sama jaraknya antara mata penderita dan mata pemeriksa.

-          Pemeriksaan dimulai dengan menggerakan obyek perlahan-lahan dari luar lapangan pandangan kearah dalam (lateral ke medial) sampai penderita melihat obyek dengan menyebut kata “ya”. Medan penglihatan pemeriksa digunakan sebagai patokan medan penglihatan yang normal. Juga dari arah medial ke lateral.

-          Apabila penderita dan pemeriksa sama-sama dapat melihat jari-jari yang bergerak pada saat yang sama maka dikatakan medan penglihatan penderita adalah normal.

-          Pada beberapa lesi tertentu medan penglihatan ini dapat menyempit atau hanya dapat melihat setengah/seperempat dari lapangan pandangan atau menghilang. Keadaan ini dikenal dengan nama hemianopsia, quadrananopsia atau anopsia.

2.      Tes Kampimetri (spt papan tulis-datar) atau Perimetri (bbtk Iingkaran)

-          Kalau dengan tes konfrontasi tadi kita memperoleh medan penglihatan secara kasar, maka dengan menggunakan Kampimetri dan Perimetri hasil yang diperoleh lebih terperinci.

-          Pemeriksaan ini juga dipakai untuk mencari adanya skotoma (bintik buta).

-          Bisaanya alat ini terdapat di bagian mata dan hasil pemeriksaannya diproyeksikan dalam bentuk gambar disebuah kartu.

Fundus Oculi (Funduskapi)

-          Pemeriksaan dakukan dengan bantuan alat Oftalmoskop

-          Yang diperiksa adalah keadaan retina dan discus optikus atau papila nervi opticus.

Cara Pemeriksaan:

-          Penderita dalam posisi duduk/berbaring di dalam ruang yang telah digelapkan lebih dahulu kemudian diminta memandang lurus ke depan.

-          Lalu dilakukan pemeriksaan satu-persatu dimana mata kiri penderita diperiksa oleh mata kiri pemeriksa & sebaliknya.

-          Selanjutnya mealui lubang pengintai oftalmoskop yang telah didekatkan pada mata penderita si pemeriksa mengarahkan sinar lampu oftalmoskop itu ke pupil penderita sehingga terlihat jelas gambaran retina dan papil nervus optikus.

-          Kesalah refraksi dapat dikoreksi dengan mempergunakan lensa-lensa yang ada pada oftalmoskop tersebut.

Penilaian:

Untuk dapat menilai hasil pemeriksaan funduskopi ini, kita harus mengetahui gambaran fundus okuli yang normal yaitu:

-          Retina berwama merah-orange.

-          Pembuluh darah vena lebih tebal dari arteri, berpangkal pada pusat papil dan memancarkan cabang-cabangnya keseluruh retina dengan perbandingan a : v = 2 : 3. Pada hipertensi, kapiler arteri menyempit, percabangan arteri tampak kaku.

-          Papil nervus optikus:

Ø  warna kuning kemerahan

Ø  bentuk bulat

Ø  batas tegas dengan sekelilingnya

Ø  mempunyai cekungan fisiologis/cupping.

 
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kelainan Papil Nervus Optikus

1.      Papil edema, dengan tanda-tanda:

·         warna : hiperemis (lebih merah dari bisaanya)

·         batas : kabur / tidak tegas

·         cekungan fisioloagis : datar, kadang-kadang sampai menonjol

·         gambaran pembuluh darah bertambah, melebar, berkelok-kelok (hiperemis). dimana a : v = 2 : 5

·         papil edema terdapat pada penyakit: radang- neuritis optica, TIK meningkat, tumor, iskemik optic neuropati.

 

 
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2.      Papil Atrofi, yang dibedakan atas 2 macam:

·         Papil atrofl Primer, akibat tekanan langsung pada nervus optikus

·         Papil atrofi Sekunder, terjadi melalui papil edema lebih dahulu

·         Papil Atrofi ditandai dengan:

-          wama      : pucat (kuning muda sampai putih) (sdh tdk bisa diperbaiki lagi/buta)

-          batas        : menjadi lebih tegas (primer), tdk tegas (sekuader)

-          cekungan fisiologis (excavatio) lbh cekung, pembuluh darah tampak mengecil dan iumlahnya berkurang.

-          Papil atrofi terdapat pd penyakit:

1.      Radang (neuritis retrobulbaris, neuritis leutika)

2.      lntoksikasi ( alcohol, kinin)

3.      Hipoksia (perdarahan hebat, anemia berat)

-          Jika ada salah satu pupil melebar + papil edema à Kemungkinan ada perdarahan di otak shg memerlukan tindakan cepat

·         Keadaan Retina & macula

-          Pada hipertensi berat akan dijumpai perdarahan (flame shaped)

-          Pada DM, akan terlihat mikroaneurisma, bisa juga terdapat hard exudat (bercak putih kekuningan yg padat)

-          Pada papil edema & hipertensi, terlihat soft exudat (bercak-bercak putih sepert kapas).

Lesi pada N. opticus NEURITIS OPTICA

Eticlogi

:

1.  Proses radang

:

a.      intraocular: retinitis, khoroiditis, oftalmia, simpatetik, tuberculosa, sifilis & toxoplasmosis.

b.      sinusitis

c.      radang dlm ruang orbita

d.      meningitis

 

 

2.Penyakit demyelinisasi

 

a.       neuritis optica pasca infeksi virus

b.      neuritis optica karsinomatosa

c.       neuromyelitis optica (peny.devic)

d.      multiple sclerosis

3.      Penyakit metabolik: DM, deff.vitamin (beri-beri, pellagra, anemia)

4.      Racun eksogen. ggn. vascular, infiltrasi/metastasis tumor ganas

 

Tes Warna (Colour Vision Testing)

-          Tes ini untuk mengetahui adanya buta warna

-          Cara periksa:

o   penderita disuruh melihat dan mengenali warna-warna yang dipertunjukan di dalam Kartu Stilling dan Istihara

-          Gangguan pengenalan warna ini sering ditemukan pada kasus neuritis optika, lesi nervus optikus, atau lesi khiasma optica

Saraf Otak III. IV, VI

N. III = N. Oculomotoricus

N. IV = N. Trochlearis

N. VI = N. Abdusens

-          Ketiga saraf ini dinamakan Nervi Oculares, karena bersama-sama mengurus gerakan bola mata. ltulah sebabnya di dalam klinik diperiksa secara bersama-sama pula.

-          Semua otot bola mata eksterna termasuk M. Levator Palpebrae dan M. Konstriktor Pupilae (parasimpatis) dipersarafi oleh N. III, kecuali M. Obligus Superior [untuk gerakan bola mata ke lateral bawah] oleh N. IV dan M. Rectus Lateralis [untuk gerakan bola mata ke lateral) oleh N. VI.

-          Pemeriksaan N. III. IV, VI ini meliputi:

1.      Celah mata = Fisura Palpebrae

Pada keadaan istirahat dan mata terbuka lebar dilihat apakah simetris atau sama dan sebangun.

2.      Ptosis

Adalah keadaan dimana kelopak mata atas jatuh/menurun karena kelumpuhan M. Palbebra Superiornya.

Dapat diperiksa dengan menyuruh penderita membuka matanya lebar-lebar atau mengangkat kelopak mata atasnya secara volunter.

3.      Keadaan Bola Mata

Penderita disuruh melihat jauh ke depan, kemudian diperhatikan celah mata dan keadaan bola mata dilihat dari samping. Pada Exophtalmus mata lebih menonjol dan celah mata tampak melebar. Sedangkan Enophalmus mata masuk ke dalam celah mata tampak menyempit.

4.      Sikap Bola Mata

Bola mata yang lumpuh memperlihatkan sikap yang tidak wajar. Sikap bola mata yang menyimpang kearah nasal dinamakan Strabismus Konvergens, sedangkan sikap bola mata yang menyimpang kearah temporal dinamakan Strabismus Divergens.

5.      Gerakan Bola Mata

Kepala penderita difiksir lurus kedepan.

Kemudian bola mata penderita diminta mengikuti gerakan suatu obyek keenam arah yaitu lateral, medial, lateral atas, medial atas, medial bawah, lateral bawah, ke atas dan ke bawah.

 

6.      Gerakan Bola Mata Konjugat

Disebut juga Deviation Conjugae yaitu gerakan kedua bola mata involunter kesatu jurusan/arah terus-menerus dan tidak dapat dikembalikan baik secara sadar maupun refleks. (dapat dgn melakukan ‘doll’s eye maneuver)

-          Gerakan bola mata konjugat diatur oleh:

Sentrum Kortikal (pada area 8 Iobus Frontalis dg bantuan korteks visual area 17,18,19)

-          Dalam mengatur sikap badan sehubungan dgn lirikan mata, fungsi serebelum, ganglia basalis, ssp vestibularis diintegrasikan oleh fasikulus longitudinalis medialis.

Deviation Conjugae Pontinat à dev.conjugae kekanan, menjauhi lesi pd Hemisfer kiri (pons)

Deviation conjugae kortikal à dev. Konjugae kekiri, mendekati lesi (corteks).

Gerakan bola mata kebawah  → lesi ditalamus [hepatic coma]

 

 

 

7. Nystagmus

  • Adalah gerakan bola mata bolak batik involunter yang timbul secara spontan.
  • Nystagmus ini mempunyai arah dan kecepatan. Arah gerakan dapat horizontal, vertical, rotatoir [berputar] atau kombinasi.
  • Pemeriksaan : Nystagmus dapat terlihat bila penderita diminta untuk melirik ke samping ke atas dan ke bawah, tetapi kadang-kadang dapat dilihat tanpa peragaan [spontan]. Kecepatan osilasi/getaran bola mata dapat : sama cepat dan ada komponen tidak cepat/lambat Pada getaran bola mata tidak sama cepat ini julukan nystagmus menurut komponen cepatnya.

Secara klinik nystagmus dikenal:

  • Nystagmus Fisiologis, yang dijumpai pada orang sehat bersifat pendek hanya 1-2 detik saja.
  • Nystagmus Patologis, dijumpai pada orang dengan kelainan di susunan saraf pusat : disfungsi batang otak, serebelum dan vestibuler.

 

8. Pupil

  • Bentuk Pupil

 

  • Ukuran Pupil

Dapat berubah-ubah setap saat bergantung pada penerangan ruang periksa. Normal bila diameter antara 2-6 nm (sekitar 3 ½ mm). Diameter < 2 mm disebut Meiosis. Diameter > 6 mm disebut Midriasis.

 

Normal ukuran kedua pupil (mata kanan dan kiri) adalah sama, yang disebut Isokori, sedangkan bila tidak sama besar disebut Anisokori.

 

 

  • Refleks Pupil

Ø  Refleks cahaya langsung

Pemeriksaan dilakukan satu-persatu dengan cara menyinari satah satu pupil mata dengan lampu senter, tatapi mata yang lainnya diusahakan jarigan ikut terangsang (ditutup atau penyorotan dilakukan dari samping lateral). Reaksi yang tampak adaah kontraksi pupil (meiosis) homolateral.

Ø  Refleks cahaya tak langsung

Disebut juga Refleks Konsensuil / Crossed Light Refleks. Cara periksa : antara kedua mata penderita diberi batas penutup dengan tangan/ kertas.

 

N. V = N. Trigeminus (saraf otak terbesar)

Menginervasi semua otot-otot pengunyah (M. Masseter & M Temporalis. M. Pterigoideus)

Motorik

-          Penutupan rahang : M. Masseter dan M. Temporalis diperiksa dengan menyuruh penderita MENGGIG1T kuat-kuat, kemudian dengan palpasi dibandingkan dengan kekuatan/ketegangan kontraksi otot tersebut sisi kanan dan kiri.

-          Adanya parase akan terasa kontraksinya tidak sama pada palpasi yaitu sisi yang satu lebih lemah daripada yang lain. Adakalanya tampak otot-otot pengunyah dalam keadaan spastis sehingga mulut penderita tidak dapat dibuka atau hanya dapat dibukanya sedkit sekali. Keadaan ini disebut Trismus (ex. Tetanus, Arthritis).

-          Gerakan rahang ke lateral kanan/kiri membuka mulut : M. Pterigoideus diperiksa dengan menyuruh penderita MEMBUKA MULUT pelan-pelan. Kemudian diperhatikan apakah rahang bawah berdeviasi ke salah satu sisi ataukah tetap lurus.

-          Pada lesi LMN rahang bawah akan berdeviasi kearah lesi/homolateral.

-          Sedangkan pada lesi UMN ke arah kontralateral, tetapi umumnya jarang terlihat karena dalam beberapa hari kelemahan otot kontralateral tersebut akan dilayani oleh serabut kortikobulbaris homolateral sebagai kompensasinya.

 

Sensorik :

-          Ada 3 cabang sensorik untuk wajah:

o      N. Oftalmicus untuk dahi (menghantarkan impuls protopatik & sekretomotorik (glandula lakrimalis) berakhir di ganglion gasseri)

o      N. Maksilaris untuk pipi (hanya somatosensorik)

o      N. Mandibularis untuk dagu (somatomotorik, sensorik & sekretomotorik).

-          Pemeriksaan sensorik prinsipnya adalah:

o      Di sini kita membandingkan sensasi kulit satu sisi dengan sisi lain pada daerah muka (dahi-pipi-dagu) baik untuk sensasi nyeri (dengan jarum) maupun raba (dengan kapas).

o      Sebaiknya penderita disuruh menutup mata dulu. Kemudian tusukan jarum tajam/goreskan dengan kapas kulit muka dan sisi yang normal dahulu baru dibandingkan dengan yang ada defisit [dahi-pipi-dagu] yang simetris. Lalu, tanyakan bagaimana persepsi yang tidak normal dibandingkan dengan yang normal kurang/rasa raba yang dirasakan pada sebelah kiri sama dengan sebelah kanan. Bila tidak sama penderita diminta memberitahukan mana yang lebih sakit.

 

TRIGEMINAL NEURALGIA (nyeri pada salah satu cabang N.Trigeminus)

Lesi di sekitar ganglion gasseri [DT]

ETlOLOGI :

  • Tumor, infeksi (meningitis), aneurisma, # basis cranii

Refleks :

Ada 2 refleks yang diperiksa:

  1. Refleks Kornea : Langsung dan Tidak Langsung

Refleks Kornea Langsung

Penderita diminta melirik ke salah satu sisi (lateral kanan kemudian lateral kiri) Misalnya ke lateral kanan dulu, maka dari sisi kontralateralnya (sisi lateral kiri penderita) kornea mata kiri disentuh dengan kapas yang sudah dipuntir halus. Di sini yang diperhatikan adalah refleks dari mata yang korneanya disentuh. Meskipun respons refleks yang sengguhnya berupa kedipan kedua mata (bilateral). Kemudan hasilnya ini dibandingkan dengan hasil pemeriksaan mata sebelahnya.

Refleks Kornea Tidak Langsung

o   Cara periksa sama dengan di atas (= Refleks Kornea Langsung) hanya saja yang diperhatikan di sini adalah Respons Refleks (kedipan) mata yang korneanya tidak dirangsang/disentuh

o   Kegunaan pemeriksaan refleks Kornea Sensuil ini sama dengan Refleks Cahaya Konsensuil yaitu : untuk melihat lintasan mana yang rusak (aferen n. V atau aferen n. VII). Jadi pada parase n. VII perifer dimana mata tidak dapat dipejamkan, maka pemeriksaaan Refleks Kornea Langsung pada sisi lesi adalah negative, tetapi Refleks Kornea Konsensuil pada sisi itu positif.

  1. Refleks Masseter (Jaw Jerk Refleks)

-          Penderita diminta membuka mulutnya sedikit (jangan terlalu lebar), kemudian letakkan jari telunjuk kiri pemeriksa di atas dagu penderita secara horizontal. Selanjutnya telunjuk tadi diketuk dengan palu refleks. Respon normal akan negative (tidak ada penutupan mulut) atau positif lemah (adanya penutupan mulut ringan).

-          Kegunaanya adalah untuk metihat adanya lesi UMN (serabut Kortikubularis), dimana setelah pengetukan tertihat penutpan mulut terjadi secara kuat (hiperrefleks/meningkat)

  1. Refleks Bersin:

·         Dengan merangsang mukosa hidung penderita akan timbul bersin yang spontan/reflektoris.

 

 

 

Saraf Otak Vll = N. Facalis

Pemeriksaan N. Facialis ini meliputi fungsi :

-          Motorik yang mempersarafi semua otot-otot wajah kecuali m. levator palpebra superior.

-          Sensorik khas, pengecap  anterior lidah.

-          Viscero motorik, mengatur sekresi kelenjar lakrimalis, lingualis dan submaksilaris.

Sentral : otot mimik, pipi & dagu lumpuh tetapi otot dahi & orbicularis bagian atas tidak lumpuh.

Perifer : otot mimik,  pipi, dagu, orbicularis oculi bagian atas & otot dahi lumpuh.

 

Motorik

  1. Otot Wajah, diperhatikan:

-          Lipatan Naso labialis simetris / tidak

-          Pada sisi parase lipatan tersebut datar/hampir datar

-          Sudut mulut simetris atau tidak

-          Hasil pemeriksaan akan tampak lebih jelas pada saat penderita diajak berbicara.

-          Gerakan Abnormal: ada atau tidaknya tic facialis

  1. Otot Dahi :

Penderita disuruh MENGKERUTKAN DAHI nya, mengangkat kedua alis mata atau melihat ke atas tanpa menggerakan kepalanya. Kemudian perhatikan apakah kerutan dahinya simetris atau tidak.

  1. M. Orbicularis Oculi:

-          Perhatikan apakah ada LAGOPHTHALMUS atau tidak dengan cara menyuruh penderita menutup matanya pelan-pelan. Adanya lagophtalmus bila celah mata masih tetap terbuka. Didapat pada lesi N. VII tipe Perifer.

-          Kemudian penderita disuruh MEMEJAMKAN MATA-nya kuat-kuat, dan pemeriksa mencoba membuka kedua mata tersebut. Pemeriksa membandingkan kekuatan kedua mata tersebut.

-          Bila sama kuat kanan dan kiri berarti normal, tetapi bila salah satu mata lebih mudah dibuka maka berarti m. orbicularis oculi tersebut parese.

  1. M. Orbicularis Oris:

-          Penderita disuruh MENUNJUKKAN GIGI-nya lalu perhatikan sudut mulut kanan dan kiri (pada penderita tidak sadar lakukan rangsang nyeri dengan menekan manubrium sterni/ujung jari)

-          Bila salah satu sudut mulut tertinggal pada pergerakan tersebut berarti terdapat parese di sisi tersebut.

 

Sensorik Khas

Untuk memeriksa pengecapan lidah depan dapat digunakan rasa manis, asin, asam, dll daam bentuk larutan sebagai obyek bahan.

Cara periksa : penderita diminta menjulurkan lidahnya lalu pada salah satu sisi lidah disentuh dengan kapas yang telah dibasahi dulu dengan larutan (bahan obyek). Kemudian penderita diminta mengidentifikasikan dengan bahasa isyarat (boleh dengan tulisan tangan atau menunjuk bahan objek di depan penderita yang telah dijelaskan lebih dahulu bahan-bahan apa tersebut).

Saat dilakukan pemeriksaan penderita tidak diperkenankan bersuara/berbicara sebab ada kemungkinan bahan larutan tersebut berpindah ke sisi lidah sebelahnya sehingga menimbulkan negative palsu. Sesuai pemeriksaan terhadap salah satu sisi lidah, dilakukan pula pemeriksaan terhadap sisi lidah sebelahnya.

Hilangnya atau mengurangnya daya pengecap dinamakan : Ageusia dan Hipogeusia.

 

Viscero motorik/otonom

Dengan anamnesis dapat diketahui keadaan sekresi air mata/air liur, apakah bisaa atau berkurang.

Tanda Chovstek

Cara membangkitkannya : ketuklah Processus Zygomaticus kanan kemudian kiri dangan palu refleks. Sebelum diketuk penderita disuruh membuka mulut sedikit dengan relax. Tanda Chovstek adalah positif  bila timbul gerakan bibir atas. Dijumpai pada hipokalsimia. psikis. spasmofili.

 

Tanda Glabella

Ketukan palu relfeks pada glabella maka akan terlihat kedua mata penderita berkedip-kedip secara terus-menerus. Pada orang normal kedipan hanya 1-2 kali saja. Sedangkan pada penderita Parkinson kedipan kedua mata terjadi terus selama bertangsungnya ketukan.

 

Saraf Otak VIII = N. Acusticus

N. Acusticus ini terdiri dari:

-          N. Cochlearis, untuk pendengaran

-          N. Vestibularis, untuk keseimbangan

 

N. Cochlearis

Pemeriksaan Tes Pendengaran:

  1. Dengan Detik Arloji

o   Ketajaman telinga kanan dan kiri diperiksa satu-persatu

o   Caranya : arloji ditempelkan pada telinga yang akan diperiksa, telinga yang lain ditutup. Lalu arloji tersebut dijauhkan sedikit demi sedikit sampai penderita tidak mendengar detiknya lagi dan dihitung jaraknya. Kemudian bandingkan jarak yang paling jauh yang masih dapat didengar penderita dengan pemeriksa (dianggap normal). Bila jarak yang didengar penderita lebih pendek daripada pemeriksa berarti ketajaman pendengaran penderita berkurang.

o   Di dalam bangsal yang kurang kesunyiannya, maka tes pendengaran ini dapat juga dengan menggunakan Suara Gesekan Jari-jari Tangan pemeriksa atau suara bisikan.

o   Tes yang lebih terperinci dengan berbagai nada dilakukan dengan Audiometer.

  1. Tes Garpu Tala

-          Garpu tala yang digunakan dalam tes ini befrekwensi 256 getaran/detik (nada C)

-          Ada 3 macam tes:

1.      Tes Weber

Garpu tala yang telah digetarkan segera dietakan pada puncak kepala atau pada dahi penderita membandingkan getaran tersebut (lebih terasa atau lebih keras terdengar di kanan atau di kiri).

Normal getaran terdangar sama kuat kanan dan kiri atau tidak ada lateralisasi. Tetapi bila saah satu tetinga ditutup, mata getaran akan terdengar lebih kuat pada telinga yang ditutup dan telinga yang terbuka. Bila getaran terdengar lebih kuat pada telinga yang terbuka berarti ada kelainan pada telinga tersebut (penyakit telinga tengah).

Jadi pada telinga tengah (tuli konduktif) maka lateralisasi terjadi kearah sisi yang sakit. Sebaliknya pada lesi N. Cochlearis (tuli perseptif) lateralisasi terjadi kearah sisi yang sehat.

 

2.      Tes Rinne

Garpu tala yang telah digetarkan segera diletakan pada tulang mastoid. Bila suara getaran tak terdengar lagi oleh penderita segera pindahkan ke liang telinga luar.

Normal : getaran garpu tala tersebut masih bisa didengar. Tetapi pada orang dengan tuli konduktif getaran tidak akan terdengar lagi. Penderita diminta mendengarkan garpu tala yang digetarkan. kemudian bandingkan dengan pemeriksa. Mula-mula dengan konduksi tulang lalu konduksi udara.

-          Caranya :

Untuk konduksi tulang garpu tala yang digetarkan diletakan di Proc. Mastoideus sampai ia tidak mendengar lagi segera pindahkan ke Proc. Mastoideus pemeriksa. Bila pemeriksa masih dapat menangkap bunyi getaran garpu tala. maka pendengaran penderita dikatakan berkurang.

 

 

 

N. Vestibularis (kesinambungan)

Pada pemeriksa diperhatikan:

  1. Keseimbangan penderita dengan mengamati sikap tubuh waktu berdiri dan waktu berjalan/bergerak.

Dijumpal pada penderita VERTIGO dengan ciri-ciri:

-          Merasa benda-benda sekitarnya berputar atau tubuhnya berputar

-          Sikapnya kaku oleh karena kepalanya terfiksir di leher dengan sengaja agar tidak timbul serangan

-          Gaya berjalannya agak lambat, tegak dan berhati-hati

-          Kedua lengan dalam keadaan siap siaga untuk memegang sesuatu kalau-kalau ia jatuh

 

  1. NYSTAGMUS (Nystagmus Ritmik}

Nystagmus Vestibuler ini mengarah dengan komponen cepatnya ke sisi kontralateral lesi.

Pemeriksaan yang lebih teliti dengan Tes Kalori Barany. Tes ini dilakukan di bagian THT.

 

Saraf Otak IX&X

Saraf otak IX   = N. Glossopharyngeus

Saraf otak X    = N. Vagus

Pemeriksaan:

Penderita diminta membuka mulutnya selebar-lebamya dengan lidah dijulurkan keluar, kemudian amati:

o   ARCUS PHARYNX, apakah simetris atau tidak

o   Untuk dapat mengamati lebih jelas penderita diminta menyebutkan huruf A. Bila asimetris berarti ada parese dan arcus pharynx tampak lebih rendah

o   Setelah itu diperhatikan apakah UVULA penderita terletak di tengah-tengah (normal).

 

Penderita diajak bicara dan didengarkan adanya : SUARA SENGAU (lesi N. IX) dan SUARA PARAU / DISFONI atau AFONI (lesi N. X).

 

Dilihat ada tidaknya GANGGUAN MENELAN, penderita disuruh minum air lalu dilihat apakah air tersebut keluar lagi melalui hidungnya atau tidak. Pada kelainan Bulber Paralyse penderita tidak dapat minum sama sekali.

 

Pemeriksaan DENYUT JANTUNG. Dengan cara menghitung frekwensi denyut jantung secara auskutasi atau nadi secara palpasi.

Pada lesi irritatif N. X terjadi bradikardi, sedangkan pada lesi paralitik terjadi takhikardi.

 

Pemeriksaan Refleks :

  1. Refleks Batuk

Dapat dibangkitkan dengan cara merangsang liang telinga

  1. Refleks Muntah

Dapat dibangkitkan dengan menyentuhkan spatel lidah pada dinding belakang pharynx.

  1. Refleks Oculo Cardiac

Hitung lebih dahulu denyut jantung /nadi selama 1 menit penuh. Kemudian penderita disuruh menutup matanya lalu kedua bola matanya ditekan. Setelah itu dihitung lagi denyut jantung dan nadinya. Normal terjadi bradikardi.

  1. Refleks Sinus Caroticus

Caranya sama dengan refleks oculo cardiac, hanya saja di sini yang ditekan adalah sinus caroticus di daerah leher setinggi Cervical VI bagian medial m. sternocleidomastoideus. Normal terjadi bradikardi.

 

Pemeriksaan Sensorik

Pemeriksaan daya pengecap 1/3 posterior lidah secara praktis sukar/tidak dapat diperiksa.

 

Saraf Otak XI = N. Accesorius

Hanya mempunyai komponen motorik, yang mempersarafi:

  1. M. Trapezius
  2. M. Sternocleidomastoideus

Pemeriksaan:

M. Trapezius : penderita disuruh mengangkat kedua bahunya serentak kanan & kiri sekuat-kuatnya. Sementara pemeriksa menekan kedua bahu tersebut, bandingkan kekuatannya kanan & kiri

M Sternocleidomastoideus tangan pemeriksa diletakkan pada pipi rahang penderita (tangan kanan untuk pipi kiri penderita dan sebaliknya). Kemudian penderita disuruh menoleh/menggerakan kepalanya kearah tangan pemeriksa, sedangkan pemeriksa berusaha menahannya. Bandingkan kiri dan kanan.

Saraf Otak XII = N. Hypoglossus

Bersifat motorik yang mempersarafi otot-otot penggerak lidah.

Cara Periksa:

Penderita diminta membuka mulut dan menjulurkan lidahnya lurus ke depan, lalu perhatikan:

-          deviasi lidah (lidah membelok ke arah mana)

-          fasikulasi (gerakan kecil-kecil pada otot lidah secara terus-menerus)

-          papil lidah : adakan atrofi atau tidak (pada papil atrofi lidah tampak licin)

Selanjutnya penderita diajak bicara atau disuruh mengucapkan kata-kata yang banyak hurul R dan L (misalnya : ular loreng-loreng lari di lorong-lorong). Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah ada Disartria/cedal atau tidak

 

KOLUMNA VERTEBRALIS

Penderita disuruh membuka baju den berdiri lurus.

Inspeksi dilakukan dari samping dan belakang, perhatikan apakah ada:

-          Khyposis

-          Lordosis

-          Scoliosis

-          Meningocele

-          Tumor

-          Trauma

Kemudian dilakukan palpasi apakah ada nyeri tekan, kemudian dilakukan perkusi (nyeri ketok).

Which Area of the Spine Is Damaged?

 

 
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BADAN dan ANCGOTA GERAK

Pemeriksan Motorik, pemeriksaan yang dilakukan:

-          bentuk dan volume otot

-          gerakan

-          kekuatan

-          tonus

-          refleks fisiologis

-          refleks patologis

-          klonus

 

Prinsip memeriksa bagian yang sehat dulu.

  1. lengan

·         Bentuk & volume otot.

Pada inspeksi perhatikan bentuk & volume otot baik masing-masing atau kelompok. Perhatikan pula apakah ada asimetri.

Pada palpasi perhatikan konsistensi otot. Pade otot yg normal akan terasa kenyal. pada otot dengan kelumpuhan LMN akan terasa lembek & kendor, sedangkan pada kelumpuhan UMN konsistensinya masih cukup kenyal bahkan kadang lebih tegang. Kelainan bentuk & volume otot adalah atrofi & hipertrofi. Atrofi adalah hilang atau mengecilnya bentuk otot disebabkan musnahnya serabut otot.

Banyak proses patologik dapat menimbulkan atrofi otot. Distribusi atrofi menunjukan pada penyebabnya.

Pembagian atrofi otot menurut unsur patologis yang mendasarinya adalah:

a.       Atrofi Neurogenik   : misalnya Poliomyelitis

b.      Atrofi Miogenik       :  misalnya Distrofia Muskulorum, miositis

c.       Atrofi Artrogenik     : misalnya akibat arthritis otot-otot di sekitar persendian menjadi artrofi.

d.      Disuse Atroti            : Atrofi terjadi pada anggota gerak yang lama sekali tidak dipergunakan.

Hipertrofi otot didapatkan pada myotonia

Hipertrofi fisiologis sering ditemui pada atlit

 

 

 

Gerakan

Ukur range of movement (luasnya bidang gerak). Penderita disuruh menggerakan lengan  setinggi mungkin sampai ke belakang dan mempertahankan posisi pada waktu diangkat.

Bila tidak dapat digerakkan sendi besar disuruh menggerakkan sendi-sendi kecil ataupun disuruh menggeser saja di tempat tidur. Bandingkan dengan yang sehat.

Nilai :  -     gerakan cukup

-          gerakan kurang

-          gerakan tidak ada

 

Kekuatan

Penderita disuruh menggerakkan sendi-sendi lalu kita berikan tahanan atau beban mulai dari yang ringan, lalu tahanan diperbesar dan terakhir diberi tahanan penuh.

Nilai :  0  = Bila tidak ada gerakan sama sekali

1 = Bila bisa menggerakkan sendi kecil atau bisa bergerak tanpa mengangkat anggota (tak bisa melawan gaya berat)

2 =  Bila bisa menggerakkan sendi besar (bisa melawan gaya berat)

3 =  Bila bisa melawan gaya berat dan bisa melawan tahanan ringan

4 =  Bila bisa melawan gaya berat dan bisa melawan tahanan sedang

5 =  Bisa melawan tahanan penuh (full resistance)

Pemeriksaan ini sifatnya sangat subyektif. sehingga pembandingnya adalah yang sehat dan penderita. Bila keempat ekstremitas lumpuh pemeriksaan dengan membandingkan dengan orang lain yang kondisi fisiknya sama.

 

Tonus

Dilakukan dengan meraba otot penderita, mula-mula pada sisi yang sehat kemudian baru ke sisi yang sakit.

Dalam penilaian tonus ini penderita harus tenang dan bersikap santai. Bila tonus menurun otot terasa tebih lembek.

Tonus meningkat akan terasa lebih tegang.

Kemudan lakukan gerakan fleksi dan ekstensi maksimal pada sendi siku secara perlahan kemudian cepat.

Perhatikan adanya daya tahan yang terasa oleh pemeriksa pada waktu mulai fleksi atau sesudah fleksi ekstensi. Bandingkan dengan yang sehat.

 

Refleks Fisiologis

      Pada lengan ada 2 macam refleks yaitu:

-          refleks tendo

-          refleks periost

     

 

      Cara menilai refleks

  1. Dengan intensitas pukulan

Lakukan ketukan pada tendo/periost dengan refleks hammer mulai dan intensitas lemah.

  1. Dengan memeriksa zona refleksogen

Yaitu mengetuk daerah sekitar tendo yang masih dapat dibangkitkan refleks.

 

      Suatu refleks dikatakan meningkat kalau:

  1. Dengan intensitas yang kecil refleks tersebut sudah dapat dibangkitkan (bandingkan dengan sisi yang sehat)

Perhatikan dengan intensitas yang sama bahwa yang refleksnya tinggi akan berkontraksi lebih kuat.

  1. Zona refleksogennya lebih luas.

Pada lengan refleks fisiologis yang diperiksa adalah :

1.      Refleks Tendo Biceps

Lengan dalam posisi sedikit fleksi pada sendi siku, lakukan ketukan pada tendo m. biceps brachii, perhatikan konstraksi m. biceps brachii.

2.      Refleks Tendo Triceps

Lengan dalam posisi fleksi 900, ketuk tendo m. triceps, perhatikan kontraksi m.triceps brachii

3.      Refleks Periost Radius

Posisi lengan dan tangan sedikit supinasi lalu ketuk processus styloideus radii. Positif kalau terjadi fleksi jari-jari terutama jari I dan II disertai supinasi lengan.

4.      Refleks Periost Ulna

Posisi seperti refleks periost radius. lalu ketuk ujung os ulnaris pada circumferensia ulnaris.

Positif kalau terjadi fleksi jari-jari terutama jari III, IV, IV, disertai pronasi lengan.

 

Refleks Patologis

-          Yang diperiksa yaitu refleks Hoffman Tromner

-          Sendi siku dan pergelangan tangan dalam keadaan fleksi membentuk sudut 900

-          Jari III diangkat dan diberi rangsangan dengan memetikkan kuku pemeriksa pada kuku penderita

-          Positif bila terjadi fleksi jarijari dan adduksi jari I

 

  1. Tungkai

-          Gerakan           : cara sama dengan pemeriksaan gerakan lengan

-          Kekuatan         : cara sama dengan pemeriksaan kekuatan lengan, yang       dinilai otot-otot fleksor dan ekstensor.

                           Penilaian juga sama dengan lengan

-          Tonus              : cara sama dengan pemeriksaan tonus pada Lengan.

                            Penilaian juga sama

-          Trofik              : cara sama dengan lengan

 

            Refleks Fisiologis

                        Berbeda dengan lengan di sini hanya ada refleks tendo saja

1.      Refleks Tendo Patella

Posisi tungkai dalam keadaan sedikit fleksi pada sendi lutut lalu ketuk pada Tendo Patella.

Perhatikan konstraksi m. quadriceps

2.      Refleks Tendo Achilles

Posisi tungkai dalam keadaan fleksi pada sendi lutut dan lakukan dorsofleksi maksimal pada kaki dan beri sedikit tahanan, lalu ketuk tendo achilies

Perhatikan kontraksi m. gastrocnemius

Tonus

-          Hiperrefleks sering diiringi Klonus

-          Klonus adalah kontraksi yang persisten dan berulang-ulang jika dilakukan penarikan pada tendo

      Ada 2 macam klonus yaitu:

1.      Klonus paha

Posisi tungkai lurus pada tempat tidur, lalu pegang kulit di atas patella dan sentakan tiba-tiba kearah distal dan ditahan. Positif bila terlihat atau terasa kontraksi klonik m. quadriceps femoris.

2.      Klonus kaki

Posisi fleksi sendi lutut dan melakukan dorsofleksi maksimal secara tiba-tiba dan ditahan. Positif bila terlihat atau terasa kontraksi m. triseps surae.

 

Refleks Patologis

  1. Babinsky Group : positif terjadi bila dorsofleksi ibu jari dan fanning (gerakan membuka seperti kipas angin) jari-jari lainaya.

a.       Refleks Rabinsky

Menggores telapak kaki sepanjang sisi lateral ke atas lalu ke sebelah medial, seperti huruf  J terbalik

b.      Refleks Chaddock

      Menggores sepanjang bagian bawah maleolus lateralis

c.       Refleks Oppenheim

      Menggosok dengan keras sepanjang tibia dari arah proksimal ke distal

d.      Refleks Gordon

      Memijit dengan kuat m. gastrocnemius

e.       Refleks Schaeffier

      Mencubit tendo Achilles

  1. Mendel - Bechterew - Rossolimo

            Positif bila terjadi planter fleksi jari-jari kaki

a.       Mendel-Bechterew ; memukul bagian kaki pada dorsum pedis

b.      Rossolimo; memukul bagian kaki pada plantar pedis

HOOVER’S SIGN

Untuk membedakan hemiplegi den histerik dengan cara:

Pemeriksa meletakan kedua telapak tangannya di bawah kedua tumit penderita. kemudian penderita disuruh untuk menekan ke bewah. Tekanan hanya akan terasa pada tumit sisi yang tak paralitik. Kemudian pemeriksa memindahkan tangannya pada sisi yang tidak paralitik, dan diletakan di dorsum pedis. Kemudian penderita disuruh mengangkat kakinya yang sehat melawan tekanan yang kita berikan. Bila penderita benar-benar mengalami hemlplegi yang organik tak ada tambahan tekanan yang terasa pada lengan yang tetap terletak di bawah kaki yang paralitik.

Sedangkan bila penderita dengan helmplegi histerik, maka dari tungkai yang dicurigai paralitik akan menekan ke bawah pada tangan pemeriksa dalam usahanya untuk mengangkat kaki yang sehat.

 

REFLEKS KULIT PERUT

            Merupakan refleks fisiologis. Daerah perut dibagi dalam 3 area yaitu:

-          daerah atas

-          daerah tengah

-          daerah bawah

Cara periksa :

-          Dilakukan penggoresan kulit perut dengan ujung refleks hammer dimulai dari tepi mengarah ke umbiculus, dan ke arah oblique atas dan bawah

-          Positif apabila terjadi konstraksi otot perut

-          Pemeriksaan dimulai dari sisi yang sehat dulu

 

REFLEKS CREMASTER

-          Merupakan refleks fisiologis

-          Sisi medial paha dirangsang dengan ujung refleks hammer

-          Pemeriksa bila testis bergerak ke atas sehingga skortum mengkerut.

 

PEMERIKSA SENSORIK/ SENSIBILITAS

Diperiksa untuk modalitas.

  1. Eksteroseptif :

-          rasa nyeri

-          rasa suhu

-          rasa raba

 

 

  1. Propioseptif:

-          rasa posisi

-          rasa getar

-          rasa nyeri dalam

Sebelum pemeriksaan sensorik dilakukan perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :

  1. Penderita harus dalam keadaan sadar dan kooperatif

Penderita harus mendapat penjelasan tentang pemeriksaan sensibilitas yang akan dilakukan dengan mengetahui cara memberi respons yang akan diinstruksikan.

  1. Untuk mendapatkan penilaian yang obyektif maka kedua mata penderita harus ditutup agar penderita tidak melihat bagian tubuh yang sedang diperiksa dan juga perhatiannya tidak terpengaruh oleh kejadian-kejadian di sekitamya.
  2. Pemeriksaan sensorik yang direncanakan.

Pada waktu anamnesa, manifestasi sensorik dapat disimpulkan dari keluhan motorik, misalnya seorang penderita paraplegi spastic harus menunjukkan juga deficit sensorik yang berupa hilangnya perasa segmental kedua sisi secara menyeluruh sampai segmen yang merupakan batas atas daripada lesi di medulla spinalis.

 

Buatlah Peta Manifestasi Sensorik

Jika sensibilitas permukaan tubuh diperiksa. maka hasilnya harus dicantumkan dalam bentuk peta kawasan defisit sensorik atau kawasan gejala positif yang terasa. Pelajari peta tersebut sehingga dapat disimpulkan adanya lesi di perifer, pleksus, radiks, atau medulla spinallis.

Tujuan diadakannya pemeriksaan sensorik adalah:

-          Menentukan adanya gangguan sensorik

-          Mengetahui modalitasnya

-          Menentukan polanya

-          Menyimpulkan jenis dan lokasi lesi yang mendasari gangguan sensorik yang akhimya perlu dinilai secara integrative dengan pemeriksaan dan penilaian gangguan motorik dan vegetatif.

 

 

Teknik Pemeriksaan Sensorik

a.       Rasa Nyeri

Alat yang diperlukan jarum bundle (jarum tajam dan tumpul). Pada pemeriksaan sensibilitas ini harus direncanakan/disesuaikan dengan keluhan utamanya. misalnya:

-          Hemiplegi/hemiparese, maka pola sensoriknya mungkin pola hemiplegi

-          Paraplegi/paraperese, maka pola sensoriknya pola paraplegi. Misalkan pada lesi medulla spinalis, bandingkan sensibilitas bagian kepala dan bagian distal kaki. Tusukkan dari bagian kepala diturunkan satu dermatom sedangkan dari bawah dinaikkan satu dermatom sampai nanti pada 2 titik dimana penderita mengatakan sama sakit atau sama tidak sakit.

-          Kemudian lakukan penusukan dari daerah yang kurang sakit ke daerah yang lebih sakit, jadi dari daerah hip/anestesi ke daerah normal

-          Setelah kita menemukan batas tertinggi maka kita kembali ke dermatom untuk menentukan tinggi lesi di medulla spinalis.

Dermatom ialah daerah pada kulit yang mendapat inervasi dan satu radiks posterior medulla spinalis darimana radiks itu berasal.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

b.      Rasa Suhu

Rangsang panas dapat diberikan dengan menempelkan tabung berisi air panas dengan suhu antara 400 - 500 C, sedangkan rangsang dingin dengan menempelkan tabung berisi air dengan suhu di antara 100 - 150C.

 

c.       Rasa Raba

Yang digunakan adalah ujung bebas seutas kapas untuk meraba permukaan tubuh.

 

d.      Rasa Posisi

Gerakan jari-jari penderita dengan gerakan ringan lalu penderita disuruh menebak posisi jari-jarinya.

 

e.       Rasa Getar

Untuk perangsangan digunakan garpu tala yang berfekwensi 128/250/detik. Letakkan kaki gerpu tala yang telah digetarkan pada tulang yang menonjol dan tanyakan perasa apa yang dialami. Jawaban yang tepat “getaran” atau kurang tepat misalnya “dingin” atau rasa “ditekan”.

 

f.        Rasa Nyeri Dalam

Pemeriksaan dilakukan dengan menekan atau memijit tempat sbb:

-          otot di lengan atas, lengan bawah, paha atau betis.

-          Os tibia, os mastoid, epikondilus humeri, simfisis ossis pubis, spina illiaka anterior superior.

-          Terido Achilles. fossa jugularis, epigastrium.

Apabila terdapat kepekaan terhadap perasaan nyeri dalam, maka perangsang dengan menekan organ tersebut di atas akan menimbulkan nyeri berlebihan. Bila terdapat hipolgesia, maka pijalan yang kuat tidak dirasakan sebagai nyeri.

 

 

 

Gejala Rangsang Meningeal

1.      Kaku Kuduk

Letakkan kedua tangan di belakang kepala, lalu kepala diantefleksi dan rotasi

Kaku kuduk positif, bila terasa tahanan.

 

2.      Kernig’s Sign

Posisi salah satu tungkai dalam keadaan fleksi pada articulation coxea dan articulatio genu (membantu sudut 900), kemudian dilakukan extensi pelan-pelan pada articulatio genu.

Kernig’s Sign positif bila penderita merasa sakit/terasa tahanan pada sudut yang dibentuk antara tungkai atas dan tungkai bawah kurang dan 1350.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3.      Lasseque’s Sign

-          Keadaan tungkai dalam keadaan lurus kemudian dilakukan fleksi pada articulatio coxae.

-          Lasseque’s Sign positif, bila penderita merasa sakit atau ada tahanan pada sudut yang dibentuk antara tungkai dan tempat tidur kurang dan 700.

-          Untuk membedakan dengan proses pada articulatio coxae, diakukan pemeriksaan Patrick’s Sign, yaitu dilakukan fleksi, abduction, exorotasi, dan ekstensi.

-          Patrick’s Sign positif, bila terasa sakit pada articulatio coxae.

 

 

 

 

4.      Brudzinsky’s Sign

4.1.    Neck’s Siqn

Tangan kiri di daerah oksiput penderita, tangan kanan di dada penderita, lalu dilakukan antefleksi maksimal pada leher penderita. Neck’s Sign Positif, bila terjadi fleksi pada kedua tungkai pada articulatio coxae genu.

 

4.2.    Cheek’s Sign

Menekan kedua prosessus zygomaticus.

Cheek’s Sign positif, bila terjadi fleksi pada articulatio cubiti, serta kedua bahu terangkat (jerking).

 

4.3.    Symphysis Sign

Menekan di atas symphysis ossis pubis

Symphysis Sign positif bila terjadi fleksi pada articulatio coxae dan genu.

 

4.4.    Leg Sign I

Melakukan fleksi maksimal pada salah satu tungkai pada articulatio coxae dan genu.

Leg Sign I positif, bila terjadi fleksi pada articulatio dan genu tungkai yang lainnya.

 

4.5.    Leg Sign II

Melakukan ekstensi mendadak pada articulatio coxae dan genu

Leg Sign II positif, bila terjadi fleksi pada articulatio coxae dan genu yang lainnya.

 

Gait dan Keseimbangan

Penderita disuruh berjalan pada suatu garis lurus, apakah penderita dapat melakukannya atau tidak dan perhatikan cara berjalannya.

Macam-macam cara berjalan yaitu :

Hemiplegic Gait

-          Jalannya Circumductio

-          Pada Penderita Hemiplegia

Ataxia

a.       Ataxia Cerebellum

-          Pada kelainan cerebellum

-          Jalannya seperti orang mabuk, dengan kedua tangan terbuka lebar jauh dari badan

b.      Ataxia Spinal

-          Pada lesi funiculus dorsalis medulla spinalis (tabes dorsalis)

-          Jalan yang dituntun oleh mata, membentuk seperti mencari sesuatu

-          Test Romberg positif, penderita disuruh berdiri dengan dua kaki dirapatkan dan kedua mata ditutup.  Maka penderita tidak dapat mempertahankan posisinya.

Scissor Gait

-          Pada paraperese type spastic

-          Jalannya karena kedua kaki tidak dapat difleksi dan kedua lutut bertemu hingga jalannya seperti menggunting.

 

Propulsion Gait

-          Pada syndrome Parkinson

-          Jalannya dengan menjatuhkan badan ke depan, langkahnya kecil-kecil makin lama makin cepat.

 

Steppage Gait

-          Pada paraparese type flaksid

-          Jalannya Iurus tidak bisa dorsofieksi kaki (pada drop foot) maka penderita berjalan dengan mengangkat lututnya lebih tinggi.

 

Limmping Gait

-          Jalan orang pincang

-          Karena nyeri pada salah satu tungkai make penderita bertumpu pada tungkai yang lainnya untuk mengurangi nyeri

 

 

Histeric Gait

-          Pada penderita histeric.

-          Jalannya aneh-aneh, menirukan bermacam-macam gait.

 

Astasia-abasia

-          Tidak bisa berjalan meskipun penderita tidak lumpuh.

 

Pemeriksaan Koordinasi

Romberg Test

Penderita disuruh berdiri pada kedua kaki yang dirapatkan dengan kedua mata tertutup

Dysmetri

Suatu keadaan dimana penderita tidak dapat menentukan jarak pada gerakan yang bertujuan.

Caranya: penderita disuruh menunjuk ke salah satu anggota badan dengan mata tertutup

-          tes jari-hidung  : ujung jari menunjuk hidung secara bergantian

-          tes jari-jari        : ujung jari yang satu ditemukari dengan ujung jari lain

-          tes tumit-lutut   :  tumit satu sisi ditemukan dengan lutut sisi yang lain dan digerakkan sepanjang tibia

Rebound Fenomena

Suatu keadaan dimana penderita tidak mampu menghentikan gerakan yang bertujuan

Caranya : penderita melakukan fleksi pd lengan dan ditahan oleh.pemeriksa lalu tiba2 dilepaskan.

(+) bila setelah dilepaskan lengan fleksi terus sehingga tangannya mengenai mukanya sendiri.

Disdiadokinesis

Penderita tdk dpt melakukan gerakan yg berlawanan dgn cepat misalnya pronasi dan supinasi lengan.

Trunk Ataxia

Caranya : Suruh penderita duduk dan mempertahankan posisinya

(+) bila penderita tdk dpt mempertahankan posisinya dan jatuh ke satu sisi.

 

 

Gerakan abnormal

Dgn memperhatikan penderita apakah ada gerakan-gerakan spontan pada penderita

1.      Chorea.

Adalah gerakan involunter pada anggota gerak (lengan, tangan).

Explosif cepat berganti sifat dan arah, dan tidak teratur

2.      Athetosis

Adalah gerakan involunter anggota gerak yang agak lambat, melilit-lilit di sendi bahu, siku dan pergelangan tangan

3.      Ballismus

Adalah gerakan involunter otot proximal anggota gerak dan paravertebral (mirip gerakan pelempar cakram).

4.      Dystonia

Adalah gerakan yang terbelit-belit dengan tonus otot yang mcninggi dan menurun secara tak teratur.

5.      Myoclonic

Adalah gerakan involunter yang bangkit secara tiba-tiba, cepat, berlangsung sesaat, aritmik dan dapat timbut sekali atau berulang pada tiap bagian otot.

6. Tremor

Adalah gerakan tidak dikehendaki, tidak bertujuan akibat gerakan bolak-balik yang ritmik karena kontraksi otot yang berlawanan.

Caranya: suruh penderita mengangkat tangan dengan jari-jari terbuka, lihat apakah ada gerakan spontan pada sendi jari.

Perhatikan:

-          Amplitudo kasar dan halus

-          Kasar pada gerakan cerebellum

-          Halus pada gangguan atau kompleks

-          Bidang Gerakan, satu bidang atau kompleks

-          Kompleks pada gangguan sindroma Parkinson

 

Pemeriksaan Fungsi Vegetatif

Yang terpenting adalah pemeriksaan miksi ysitu dengan cara:

-          Anamnesa

-          Pemeriksaan

Anamnesa:

Apakah miksi spontan, didasari, bisa ditahan atau tidak, keluar terus-menerus atau sekali berhenti atau tidak dapat keluar sama sekali.

 

Pemeriksaan:

Tekan vesica urinaria untuk menentukan apakah penuh atau tidak. Observasi ujung urethra, basah terus atau tidak.

Tekan vesica urinaria apakah terjadi pengosongan urine, lalu lakukan kateterisasi untuk menentukan rest urine.

 

Macam-macam kelainan miksi:

1.      Incontinentia Urinae :

Suatu keadaan dimana urine keluar terus-menerus secara menetes.

2.      Retensio Urinae :

Suatu keadaan dimana urine tidak dapat keluar baik secara disadari atau tidak. Sedangkan vesica urinaria penuh.

3.      Automatic Bladder :

Suatu keadaan dimana urine dapat dikeluarkan dengan adanya gaya berat, atau rangsangan pada os pubis dan lipatan inguinal.

4.      Atonic Bladder :

Suatu keadaan dimana urine dapat dikeluarkan dengan menekan supra pubic.
Residual urine pada keadaan ini lebih banyak dan automatic Bladder.

 

PEMERIKSAAN FUNGSI LUHUR

Dengan fungsi luhur memungkinkan seseorang untuk memberikan respon atau tanggapan atas segala rangsang atau stimulus baik dari luar maupun dari dalam tubuhnya sendiri sehingga dia mampu mengadakan hubungan intra maupun interpersonal.

Termasuk dalam fungsi luhur :

1.      Fungsi bahasa

2.      Fungsi memori (ingatan)

3.      Fungsi orientasi (pengenalan)

 

Ad 1.   Pemeriksaan Fungsi Bahasa :

Gangguan bahasa disebut afasia atau disfasia, yaitu kelainan berbahasa akibat kerusakan diotak tetapi bukan kerusakan atau gangguan persarafan perifer otot-otot bicara, artikulasi maupun gangguan penurunan intelegensi.

           

Ada 2 jenis afasia :

1.      Afasia Motorik

Adalah gangguan bahasa dimana penderita tidak mampu mengeluarkan isi pikirannya.

Afasia motorik ada tiga macam yaitu :

a.       Afasia motorik kortikalis

-          Penderita tidak dapat mengeluarkan isi pikirannya baik secara verbal, tulisan maupun isyarat

-          Letak lesi di korteks selebri dominan

b.      Afasia Motorik sub-kortikalis

-          Penderita tidak dapat mengeluarkan isi pikirannya secara verbal tetapi masih dapat dengan tulisan maupun isyarat.

-          Disebut juga sebagai “afasia motorik mumi”

-          Lesi di subkorteks dominan

c.       Afasia motorik transkortikalis

-          Penderita tidak dapat mengeluarkan isi pikirannya secara verbal namun masih dapat membeo

-          Lesi di transkortikalis area Broca dan Wernicke

Cara pemeriksaan :

Mengajak penderita berbicara mulai dari hal yang sederhana sampai hal-hal yang sukar yang pemah diketahui sebelumnya. Bila tidak bisa disuruh menuliskan jawaban atau dengan isyarat.

Syarat pemeriksaan : penderita dalam keadaan sadar penuh dan bahasa yang dipakai sering dimengerti.

 

2.      Afasia Sensorik

Adalah gangguan bahasa dimana penderita tidak bisa mengerti isi pikiran orang lain walaupun alat-alat bicara dan pendengarannya baik.

Afsia sensorik ada tiga macam, yaitu :

a.       Afsia Sensorik Kortikalis

-          Penderita tidak bisa mengerti isi pikiran orang lain yang disampaikan baik secara verbal, tulisan maupun isyarat.

-          Lesi di area korterks wernicke (sensorik)

b.      Afsia Sensorik Sub-Kortikalis

-          Penderita tidak dapat mengerti isi pikiran orang lain yang disampaikan baik secara verbal sedang tulisan dan isyarat dapat dimengerti.

-          Lesi sub kortikal area wernicke.

c.       “Word blindness”:

-          Penderita masih mengerti bahasa verbal namun tidak lagi bahasa visual.

-          Jarang terjadi

Cara pemeriksaan :

Diberi perintah kepada penderita untuk melakukan sesuatu tanpa contoh. Bila tidak bisa baru diberikan secara tulisan atau isyarat.  Syarat pemeriksaan sama seperti pemeriksaan afasia motorik.

 

Termasuk dalam gangguan bahasa lainnya adalah :

Apraksia :

            Penderita tidak bisa melaksanakan fungsi psikomotor

            Cara : beri perintah untuk melakukan gerakan yang bertujuan.

            Misalnya : membuka kancing baju, dsb

Agrafia:

Penderita tidak bisa menulis lagi (tadinya bisa)

Cara : beri perintah untuk menuliskan kata-kata yang didiktekan

Alexia :

Penderita tidak dapat mengenali lagi tulisan yang pemah dikenalnya.

Cara : Suruh baca tuisan atau kata-kata yang pernah dikenalnya.

Astereogneosia :

Pendenta tidak bisa mengenal bentuk benda dengan meraba

Cara : Dengan mata tertutup penderita disuruh menyebutkan benda dengan cara merabanya.

Abarognosia :

Penderita tidak mampu menaksir berat benda yang berada di tangannya (perabaan)

Cara : Penderita disuruh menaksir berat benda yang berada di tangannya.

Agramesthesia :

Penderita tidak bisa mengenal tulisan yang dituliskan di badannya.

Cara : Penderita disuruh menyebutkan kata-kata yang dituliskan dibadannya dengan mata tertutup.

Asomatognosia :

Penderita tidak mampu menentukan bagian-bagian tubuhnya sendiri.

Cara : Suruh penderita menunjukkan bagian-bagian tubuhnya kiri atau kanan.

 

Ad 2.   Pemeriksaan Fungsi Memori

Cara klinis gangguan memori (daya ingat) ads 3 yaitu :

-          Immediate Memory (segera)

-          Short term Memory/recent memory (jangka pendek)

-          Long term Memory/remote memory (jangka panjang)

Cara Pemeriksaan

1.      Immediate Memory :

Daya mengingat kembali suatu stimulus yang diterima beberapa detik lalu seperti mengingat nomor telpon yang baru saja diberitabukan.

Cara : penderita disuruh mengutang deret nomor yang kita ucapkan.

Seperti di bawah ini (disebut Digit Span)

3-7

2-4-9

8-5-2-7

2-8-6-9-3

5-7-1-9-4-6

8-1-5-9-3-6-7

Dikatakan masih banyak normal bita seseorang masih dapat mengulang sebanyak 7 digit.

2.      Recent Memory :

Daya mengingat kembali stimulus yang diterima beberapa menit, jam, hari yang lalu.

Cara : Penderita disuruh menceritakan pekerjaan/perstiwa yang dikerjakan/dialami beberapa menit/lalu atau hari yang lalu.

3.      Remote Memory:

Daya mengingat kembali stimulus atau peristiwa yang telah lama berlalu (bertahun-tahun).

Cara : Penderita disuruh menceritakan pengalaman atau teman-teman masa kecilnya. (tentunya pemeriksa telah mendapat informasi sebelumnya)

 

Ketiga pemeriksaan di atas adalah untuk audio memory (yang didengar), sedangkan memori yang dilihat (visuo memori) dapat diperiksa sebagai berikut :

Cara : penderita disuruh mengingat nama-nama benda yang diperlihatkan kepadanya, kemudian benda-benda tersebut disimpan.

Beberapa waktu kemudian penderita disuruh mengulang nama-nama benda tersebut.

 

Ad 3.   Pemeriksaan Fungsi Orientasi

            Secara klinis pemeriksaan orientasi ada 3 yaitu :

1.      Personal

2.      Tempat

3.      Waktu

Cara      :  penderita disuruh mengenali orang-orang yang berada disekitamya yang memang dikenalnya (seperti istrinya, anak, teman, dst)

                 Juga menderita disuruh mengenali tempat dia berada atau tempat-tempat lainnya.

                 Penderita disuruh pula menyebutkan waktu/saat penderita diperiksa seperti siang atau malam atau sore, dst.

Catatan  :  Kesemua pemeriksaan fungsi luhur ini baru dapat diperiksa pada orang atau penderita yang mempunyai kesadaran penuh atau baik dan tidak mengalami gangguan mental, kemudian intelegen maupun kerusakan organ-organ atau persarafan perifer yang terkait.  Harus diingat bahwa pemeriksaan fungsi luhur adalah pemeriksaan fungsi kortek serebri yang terkait.

 

PEMERIKSAAN LABORATORIUM

Jenis periksaan laboraturium dilakukan sesuai kasus yang dihadapi.

Yang diperiksa adalah :

1.      Darah : Pemeriksaan darah rutin (Hb Hematokrit, Leukosit, Eritrosit, Trombosit, Retikuosit, LED), Kimia Darah (Gula Darah, Cholesterol, Total Lipid, Hdl, LDL, Ureum, Kreatin, Asam Urat) Reaksi serologis (VDRL, Widal).

2.      Urine : Pemeriksaan rutin

3.      Faeses : Pemeriksaan rutin

 

PEMERIKSAAN LIKWOR SEREBROSPINAL

Cairan serebro spinal diperoleh dengan tindakan fungsi lumbal.

Yang diperiksa adalah:

1.      Tekanan Likwor

Jarum pungsi yang dimasukkan kedalam teka lumbatis, sehingga ruang sub arakhnoid dapat dihuhungkan dengan dunia luar. Karena tekanan di dalam ruangan lebih tinggi daripada tekanan atmosfir, maka likwor akan mengalir melalui jarum pungsi. Apabila sebatang tabung manometer dihubungkan dengan jarum pungsi tersebut, maka likwor akan naik di dalam manometer dan tekanan di dalam ruangan sub arakhnoid dinyatakan oleh tingginya kolom likwor dalam manometer.

Tekanan normal pada orang yang berbaring adalah 6-14 cm H2O.

Tekanan 18-20 cm H2O adalah agak tinggi.

Tekanan di atas 20 cm H2O jelas tinggi.

Tekanan likwor tinggi pada proses desak ruang dan proses radang.

Tekanan intra kranium yang tinggi juga dicerminkan dengan papiledema yang terungkap dengan pemeriksaan oftalmoskopi. Jika ada papil edema maka tindakan fungsi lumbal tidak boleh dilakukan, karena dengan mengeluarkan likwor dapat terjadi herniasi serebelum di dalam foramen magnum yang dapat menimbulkan kematian.

Pungsi lumbal juga tidak boleh dilakukan kalau ada luka pada daerah tempat melakukan pungsi lumbal karena ditakutkan akan masuknya kuman yang dapat menimbulkan meningitis.

 

2.      Komposisi Likwor

-          Jumlah sel normal 0-3, bisaanya limfosit.

-          Jumlah sel meninggi pada radang dan iritasi selaput otak dan radang jaringan otak.

-          Infeksi akut menyebabkan pleositosis polinuklear.

-          Sedangkan infeksi kronik disertai pleositosis mononuklear.

-          Pleostosis akibat iritasi jumah sel tdk begitu banyak dan bersifat limfositosis. Infeksi bakteri (piogenik) mengakibatkan pleositosis polinukleus, sedangkan infeksi virus adarah mononukleus.

-          Protein normat l4-45 mg%

-          Protein meninggi pada radang selaput otak dan otak tumor intrakranium, infark dan hematoma serebri.

-          Jika protein likwor meninggi dari 500 mg% maka likwor menjadi kental dan cepat membeku, dan merupakan salah satu gejala sindroma froin (santokrom, plelositosis dan koagulasi masif likwor).

-          Glukosa normal 60-85 mg% (60-80 % jumlah glukosa darah). Glukosa menurun pada meningitis, terutama akibat tuberculosis.

-          Khlorida normal 720-750 mg% atau 124-130 mE/L

 

  1. Reaksi Serologik Likwor :

-          Normal tidak menunjukkan reaksi agutunasi positif terhadap infeksi tertentu.

-          Reaksi serologic diperiksa pada penderita yang dicurigai menderita sifilis.

-          Reaksi lain adalah reaksi kolodial lange.

PEMERIKSAAN ELECTRO DIAGNIOSTIK

1.      Pemeriksaan foto radiologik polos kepala :

-          Dibuat dengan posisi posteroanterior, lateral, setengah aksial (towne) dan foto basis kranii.

-          Dengan foto polos ini dapat terlihat adanya garis fraktur, baik linier atau impresi.

-          Juga dapat dinilai bentuk dan tebal tipisnya tulang tengkorak dan keadaan sela tursika dan bangunan tulang sekitamya. Dapat dikenal adanya perkapuran abnormal.

-          Selain itu juga dikenal anomaly congenital, seperti mikrosefalus, hidrosefalus dan lain-lain.

2.   Foto polos tulang belakang

      Dibuat dengan posisi antroposterior, lateral dan oblik kanan dan kiri.

      Tulang belakang dibagi dalam bagian servikal, torkal, lumbal dan sacral.

 

      Kelainan yang dijumpai :

-          Fraktur dan Dislokasi

Selain akibat trauma yang jelas, ada pula fraktur kompresi yang anamnestik tak jelas adanya trauma, ini akibat tulang yang sudah osteoporotik.

-          Anomali congenital :

Kebanyakan terjadi di bagian lumbosakral, yang tersering dijumpai adalah spina bifida daerah lumbal dan servikal bawah.  Sakralisasi (fusi L5 dengan os sacrum)

-          Perubahan Degeneratif :

Pada orang dewasa tua sering dijumpai osteofit pada tepi anterior, lateral dan posterior (disebut sebagai spur).  Gambaran osteoporosis tulang belakang dijumpai pada orang tua.

-          Proses Keganasan :

Osteosarkoma dan Fibrosarkoma tulang belakang jarang dijumpai.  Tumor metastatik karsinoma prostate dan fraktur gastrointestinal lebih sering dijumpai. Tumor di dalam medulla spinalis ada kalanya dapat terlihat pada foto polos yaitu perubahan pada pedikel dan erosi pada korpus vertebra dan laminanya.

 

MIELOGRAFI

-          Substansi yang tak dapat ditembus oleh sinar roentgen (radio opak) atau gas (udara) dimasukkan dalam ruang sub arkhnoid spinalis melalui pungsi lumbal atau sisternal.

-          Tujuannya adalah menyelusuri lintasan likwor di tingkat medulla spinallis.

-          Dengan ini dapat ditunjukkan adanya sumbatan ekstradural, intradural, ekstrameduller atau intra meduller.

-          Dengan pungsi lumbal, dilakukan mielografi asendens sedangkan dengan pungsi melalui sisterna magna dilakukan mielografi desendens.

-          Gambaran yang dijumpai dapat merupakan penyempitan atau obstruksi. Lesi intra meduler mengembangkan medulla spinalis setempat.

-          Pada tumor ekstrameduler ekstradural yang menekan dari posterior, maka pada proyeksi AP mirip dengan tumor intrameduller, maka diperlukan proyeksi lateral.

-          Tumor ekstramedural dapat menggeser dura dan medulla spinalis stempat.  Tumor intra dural ekstrameduler kebanyakan berupa meningioma dan fibrioma.

 

ARTERIOGRAFI :

-          Arteriografi Karotis

-          Arteriografi Vertebralis

Adalah metoda pembuatan foto roentgen pembuluh darah intrakranium setelah arteria karotis atau arteria vertebralis diisi dengan substansi radio opak.

Substansia yang dipakai adalah Hypaque 50% atau lopamiro.  Cairan kontras disuntikan ke dalam arteria karotis atau arteria bertebralis.  Dengan demikian bentuk, letak dan perjalanan cabang-cabang arteri karotis interna dan arteri vertebralis dapat divisualisasi pada foto roentgen. Tergantung dari fase pengambilan fase arteri, vena atau fase kapiler maka dapat diperlihatkan kondisi dan lokalisasi sistema arterial, venosa atau kapiler.

Pada angiografi karotis diperoleh gambaran susunan serebral ipsilateral, sedangkan dengan angiografi vertebral sesisi, gambaran vaskuler diruang intrakranium infratentorial yang diperoleh selalu memperlihatkan susunan vaskuler kedua sisi.

Yang akan dicari adalah informasi tentang susunan vaskuler. Kelainan tersebut dapat berupa lesi intraluminal (obstruksi dilatasi patologi, seperti aneurisma, malformasi pembuluh darah) atau gangguan ekstravaskuler yang menggeser. menarik atau menekan pembuluh darah setempat.

 

PNEUMOENSEFALOGRAFI :

Dasamya adalah mengisi ruang subarakhnoid intrakranium dengan udara. Secara teknis pneumoensefalografi lebih sukar dibuat dari pada Ventrikulografi.

Pneumoensefalografi tidak berbahaya, tapi efek samping cukup menganggu penderita, seperti nyeri kepala, muntah-muntah dan pusing kepala.

Udara dimasukkan ke dalam ruang subarakhnoid melalui pungsi lumbal. Dengan meninggikan bagian atas tubuh, udara yang berada dalam likwor naik melalui foramen magna.

Dengan demikian dapat dilihat gambaran dan sistem ventrikel, seperti pada hidrosefalus ataupun tumor supra atau infra tentorial.  Kalau dijumpai papil edema dengan sendirinya pemeriksaan ini tak boleh dikerjakan.

 

ELEKTROENSEFALOGRAFI (EEG)

Elektroensefalografi adalah suatu pemeriksaan untuk merekam aktivitas listrik dari otak melalui tengkorak yang utuh.

Kegunaan:

Pemeriksaan EEG dapat memberikan fakta-fakta dan petunjuk dari gangguan fungsi otak fokal atau global seperti:

-          disfungsi otak seperti pada penderita epilepsy

-          tumor serebri

-          infark srebri

-          hemorragi serebri

-          kontusio serebri

-          ensefalitis

-          dan berbagai keadaan psikiatrik

Akan tetapi arti praktisnya terbatas pada gangguan konvulsif dan proses desak ruang intrakranium.

Dasar cara pemeriksaan :

Perekaman dilakukan dengan menempelkan 16 elektroda pada berbagai tempat di kepala, dengan demikian potensial permukaan otak dapat diukur. Pengukuran ini berlalu terus-menerus untuk episode beberapa menit dan hasilnya dicatat pada kertas yang berjalan.  Kecepatan jalannya kertas dapat berjalan 11/2  cm, 3 cm, dan 6 cm per detik.  Voltase yang dicatat oleh galvanometer dihibahkan pada alat pencata sehingga potensial yang tercatat dengan tinta pada kertas yang berjalan berupa gelombang-ge1ombang. Penghibahan itu dilakukan melalui alat pengeras, supaya potensial otak sebesar 50 mikrovolt dapat diperbesar amplitudonya (amplifikasi) yang berjumlah satu juta kali. Hal ini mengakibatkan juga timbulnya banyak tanda elektrik yang disebabkan oleh gaya listrik dari sumber lain (non serebral) yang dinamakan ARTEFACT,  ikut tercatat pada EEG. Gaya non serebral itu dapat timbul karena gerakan otot kepala, kedipan mata, sumber listrik generator, dsb.

Untuk mempermudah perekaman, maka potensial serebral diukur secara bipolar. Dengan cara demikian selisih potensial itu tercatat sebagai gelombang yang menunjuk ke atas atau ke bawah.

 

ELEKTROMIOGRAFI (EMG) dan ELEKTRONEUROGRAFI (ENG)

Adalah pemeriksaan untuk mengukur kegatan listrik otot skeletal (EMG) dan kecepatan daya penghantaran saraf tepi (ENG).

Kegunaan :

-          Sebagai alat pembantu diagnosa dari prognosa kelainan saraf tepi dan otot seperti pada penyakit-penyakit :

-          Trauma dan Kompresi Saraf Tepi:

(Trauma Pleksus, HNP, Carpal Tunnel, Neurinoma, dsb)

-          Spinal Muscular Atrophy:

(Poliomielitis, ALS, dsb)

-          Neuropati Saraf Tepi

(Neuropati Diabetika, Neuropatia Defisiensi, Morbus Hansen. dsb)

-          Penyakit Otot :

(DMP, Polimiositis, dsb)

-          Gangguan Hantaran Neuromuskuler :

(Miastenis Gravis)

-          Lain-lain : nyeri kepala, ketjang otot, Spasmofilia

Dasar-dasar pemeriksaan

EMG :

Sebatang jarum elektroda ditusukkan dalam otot skeletal untuk merekam aktititas otot tersebut. Potensiai aksi ditangkap elektroda tersebut diperlihatkan oleh osiloskop sinar katoda dan sekaligus dihubungkan dengan alat pengeras suara. Dengan demikian potensial aksi otot dapat terlihat dan terdengar secara simultan.

Otot skeletal yang sehat pada keadaan istirahat tidak mengeluarkan potensial aksi. Tetapi bilamana terdapat lesi pada salah satu bagian dari satuan motorik, otot skeletal yang bersangkutan kendatipun pada saat istirahat mengeluarkan potensial aksi. Kegatan listrik itu tampak pada layar osiloskop dengan bentuk yang tidak wajar, sehingga menyusun suatu pola patologik. Pola-pola patologik dari kegiatan listrik tersebut merupakan kriteria khas bagi lesi di neuron atau “motor end plate” ataupun di serabut otot.

Namun demikian EMG tidak menyajikan diagnosa klinis.

ENS:

Dengan jalan elektroneuronorafi, daya penghantar saraf tepi dinilai. Dalam hal ini waktu antara saat diberikan rangsangan dan saat tibanya potensial aksi yang dibangkitkan (evoked potential) merupakan masa yang diperlukan impuls untuk menempuh jarak antara titik penerimaan. Pada titik perangsangan ditempatkan elektroda stimulator dan titik penerimaan ditempatkan elektroda pencatat. Saraf Tepi umunya diperiksa adalah saraf tepi tungkai dan lengan, sehingga titik-titik tersebut di atas ditempatkan sepanjang perjalanan nervus ulnaris atau medianus pada lengan dan nervus tibialis atau peroneus pada tungkai.

Pada titik distal atau proksimal dapat ditempatkan elektroda perangsang atau eltektroda pencatat tergantung sifat dari ENG yang hendak dikerjakan. Kedua elektroda dihubungkan dengan osilograf katoda sedemikian rupa sehingga rangsangan dan tibanya potensial aksi yang dibangkitkan dapat dicatat. Selisih waktu antara dilakukannya rangsangan dan saat tibanya potensial aksi tersebut disebut masa latent. Dengan diketahuinya jarak antara elektroda perangsang dan elektroda pencatat, maka daya penghantaran melalui saraf (*condition velocity*) dalam m/detik dapat ditetapkan:

COMPUTERIZED TOMOGRAPHIC SCANNING (CT SCAN)

CT SCAN otak adalah suatu metoda pemeriksaan otak dengan mempergunakan komputer dalam menganalisa informasi sinar X. Berbagai jaringan intracranial akan menyerap sinar X yang kemudian ditangkap oleh detector dan computer akan melakukan perhitungan secara logaritmik terhadap daya serap sinar X tersebut dalam densitas tertentu. Selanjutnya data-data ini diolah pada “Central  Processing Unit” computer, dan hasil akhirnya dapat dilihat berupa gambaran pada layar televisi. Gambaran otak secara horizontal (axial) lapis demi lapis setebal 0,5 — 1 cm dapat digerakkan dalam bentuk gambar, mulai dari garis orbito meatal (sebagai patokan) sampai verteks, biasanya diperlukan 10 — 12 potongan untuk mencapai ini. Daya sinar X dari berbagai jaringan intracranial dan tulang dinilai dalam satuan ”Unit” (H unit/EMI unit).

Sesudahnya pemeriksaan CT serebral polos, dapat dilanjutkan dengan pemeriksaan CT serebral dengan kontras, dimana bahan kontrasnya diberikan intravena secara bolus atau per infuse. Dengan kontras akan dapat dilihat adanya bagian-bagian tertentu atau kelainan jaringan otak yang memperlihatkan pennggian atenuasi dan densitas setempat (*enhancement*).

 

Indikasi Pemeriksaan CT Scan Otak:

Pada saat ini pemeriksaan CT SCAN bukanlah pemeriksaan rutin untuk diagnostic karena terbatasnva pengadaan alat dan ongkos yang tinggi tersebut menjadi relative mahal, dibandingkan dengan pemeriksaan neurodiagnostik lainnya yang bersifat invasive dan memakan waktu.

Adapun beberapa indikasi pemeñksaan CT SCAN adalah sbb:

1. Kejang Fokal

Pada penderita dengan kejang fokal, selain pemeriksaan EEG untuk melihat kelainan fungsional, perlu juga dilakukan pemeriksaan CT SCAN untuk mencari kelainan struktural jaringan otak yang tidak jarang sebagai penyebab dan kejang fokal tersebut.

2. Nyeri Kepala

Pemeriksaan CT SCAN perlu dilakukan pada kasus nyeri kepala yang disertai kelainan klinis neurologis atau bila jenis nyeri kepala vaskular dan nyeri kepala kejang otot dapat disingkirkan sebelumnya.

3. Demensia

Menurunnya daya ingat dan intelektual secara progresif. Demikian juga dengan adanya perubahan kepribadian dan tingkah laku yang progresif. Kelainan di atas dahulu dianggap semata-mata disebabkan proses degeneratif, tetapi telah diketahui sekarang bahwa lesi structural jaringan otak seperti tumor, stroke, subdural hematoma, hidrosefalus, dll, dapat sebagai penyebab demensia.

4. Tumor Otak

CT SCAN dapat mendeteksi adanya tumor otak baik primer maupun metastatik, walaupun jenis sendiri masih sukar ditentukan secara cepat.

5. Penyakit Pembuluh Darah Otak (CVD]

CT SCAN dapat menentukan secara tepat dan cepat penvebab dari CVD

seperti perdarahan intraserebral, infark jaringan otak, malformasi pembuiuh darah aneurisma ataupun perdarahan intraventikuler.

6. Trauma Kepala

Pemeriksaan CT SCAN kepala sangat berguna pada penderita dengan trauma kepata yang disertai kehilangan kesadaran yang lama, adanya lucid interval (free interval) yang nyata, ataupun adanya gangguan neurologik fokal seperti hemiparrese, afasi, dli.

Disini CT SCAN dapat memperlihatkan adanya nekrosis jaringan otak akibat trauma, fraktur tulang kepala, perdarahan intracranial, hematoma subdural maupun epidural.

 

 

7. lnfeksi

CT SCAN dapat membedakan antara otak dan aneurisma yang pecah akibat infeksi jamur. Pada herpes ensefalitis dapat dilihat adanya lobus temporalis yang edematous. Klasifikasi intra serebral pada anak akibat toksoplasmosis dapat dengan mudah ditemukan.

8. Hidrosefalus.

CT SCAN penting dalam diagnostik dan penatalaksanaan hidrosefalus karena dengan CT SCAN dapat menentukan:

- tempat obstruksi pada non communicating hydrocephalus

- mempelajari ukuran ventrikel secara berkala

- tempat dan hasil pemasangan shunt

9. Kelainan Orbital

Kelainan retro orbital seperti tumor, perdarahan maupun akumulasi jaringan lemak dapat ditemukan dan dibedakan dengan cepat dengan pemeriksaan CT SCAN.